"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Monday, 22 October 2012

Taman Nasional Baluran


05 September 2012 saya berkesempatan untuk mblakrak ke Taman Nasional Baluran yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Taman Nasional Baluran ini diisi oleh beberapa tipe vegetasi, antara lain hutan musim, hutan mangrove, dan sabana serta dihuni oleh beberapa jenis satwa dilindungi, antara lain Banteng (yang kemudian menjadi maskot Taman Nasional Baluran), Macan Tutul, Rusa, Kancil, Monyet, Ayam Hutan (Bekisar), Burung Merak dan aneka macam burung lainnya.

Saya berangkat bersama Dayat, teman saya yang kebetulan kerja dan kos di kota Situbondo. Kami berdua berangkat boncengan naik motor. Sekitar jam 10.00 WIB, kami mulai perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Peralatan yang dibawa antara lain, tas carrier berisi pakaian ganti (karena kami berencana untuk menginap), tenda dome, matras, jaket, senter, dan perlengkapan memancing. Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk membeli bekal logistik (mie instan dan air). Kemudian perjalanan kami lanjutkan, dan finally kurang lebih jam 13.00 WIB kami pun sampai di Taman Nasional Baluran.

Suasana di Taman Nasional Baluran cukup sepi waktu itu, mungkin karena kami ke sini saat hari kerja, bukan saat liburan (lho, kalau hari kerja kenapa Dayat nggak kerja?? pssstt... bolos, brur. dilarang meniru adegan berbahaya ini, jika tetap memaksa ingin mencoba, do it at own risk). Kemudian kami masuk dan melapor di pos informasi untuk mengurusi perijinan. Sampai di pos, ternyata petugas yang mengurusi tiket masih makan siang, di sana kami ditemui oleh petugas jaga yang lain. Sambil mengamati keadaan sekitar, kami pun ngobrol-ngobrol dengan bapat petugas jaga tadi. Wah ternyata keadaan sekitar jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Berdasarkan informasi dari bapak petugas jaga tadi, ternyata di Taman Nasional Baluran camping ground nya berada hanya beberapa meter dari pos informasi. Sementara di padang savana tidak diijinkan untuk mendirikan tenda, sebagai gantinya di sana sudah disediakan wisma oleh pihak Taman Nasional Baluran untuk menginap. Daann... yang lebih mengecewakan lagi, masih berdasarkan informasi dari bapak petugas jaga tadi, untuk saat ini sampai tanggal 21 September 2012, pengunjung kawasan Taman Nasional Baluran tidak diijinkan untuk menginap (baik mendirikan tenda, ataupun menginap di wisma) dikarenakan Taman Nasional Baluran masih kedatangan Tim Inspeksi dari Jakarta.
Melihat peralatan pancing yang kami bawa, bapak petugas jaga tadi juga bilang bahwa di pantai Bama (yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Baluran) pengunjung dilarang untuk memancing ikan yang ada di pantai Bama, karena itu termasuk kawasan konservasi. Waduh... kami bawa pancing sebenarnya kan juga dapat informasi dari internet kalau di pantai Bama boleh memancing, ternyata... informasi yang menyesatkan. Kamipun meminta maaf dan berjanji untuk tidak memancing. Sumpeee deee...

Setelah bapak petugas yang mengurusi tiket datang, kami langsung ijin dan membayar tiket masuk untuk 2 orang plus motor. Yah... biarlah walau sedikit kecewa dengan kondisi di lapangan, kami tetap masuk, itung-itung untuk menghilangkan rasa penasaran akan pemandangan alam savana Taman Nasional Baluran yang konon katanya mendapat julukan "Little Africa in Java".
Dari pos informasi menuju Bekol (padang savana) dengan menunggang motor diperlukan waktu kurang lebih setengah jam dengan menyusuri jalan makadam. Saat melintasi jalan menuju Bekol, beberapa kali kami menemukan titik api alias pohon-pohon yang terbakar, entah karena pengaruh kemarau atau sebab lain. Kami juga sempat berpapasan dengan petugas dari Taman Nasional Baluran yang berusaha memadamkan pohon-pohon yang terbakar. Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Bekol. Wuaaw... pemandangannya gersang, panas, seolah-olah berada di Afrika (lebay). Setelah mengambil beberapa view foto, perjalanan segera kami lanjutkan ke Bama (pantai).

Begitu masuk ke area pantai Bama kata yang terucap pertama kali adalah "Sepi...!!" Yah namanya juga bukan musim liburan. Yang ada di area pantai hanya kumpulan monyet, dan 1 keluarga kecil yang sedang berlibur dan tampak asyik bermain pasir bersama anaknya yang masih kecil. Kami pun kemudian istirahat sejenak menikmati semilir angin pantai. Kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan di sekitar pantai yang memiliki pasir putih, pemandangan laut yang biru dengan ombak yang kecil. Setelah puas mengambil dokumentasi alias berfoto-foto ria, kembali kami istirahat menikmati pemandangan pantai yang menurut kami cukup indah dan terhitung masih bersih (jika dibandingkan dengan pantai lain yang sudah terkenal sebagai tujuan wisata). Kurang lebih jam 15.00 WIB, kami pun beranjak dari pantai Bama dan berencana kembali ke savana Bekol, untuk mengamati pemandangan Bekol saat senja.

Savana Bekol saat senja sungguh indah. Beberapa kumpulan rusa mulai menampakkan diri untuk minum dan bermanja di bawah senja matahari. Sementara padang savana bergoyang-goyang tertiup angin yang cukup kencang. Freedom... bebas lepas... itulah kesan yang saya tangkap. Kami juga sempat naik ke beberapa pos pantau yang ada di Bekol, menikmati kencangnya angin yang berhembus. Setelah puas menikmati senja di Bekol, kamipun langsung bersiap untuk kembali ke pos informasi, dan kembali ke kosannya Dayat.
Di saat perjalanan pulang, kami sempat mengobrol perihal nasib logistik kami (mie instan) yang sudah terlanjur kami beli, eman terlanjur beli logistik ternyata nggak jadi menginap. Akhirnya kami berdua memutuskan besok untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen, agar kiranya logistik yang sudah terbeli tidak sia-sia dan bisa digunakan (halah, alasan yang terlalu mengada-ada). Yaaa... kami sepakat untuk kembali ke kosan untuk beristirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen.

It's called "Little Africa in Java"

share on facebook

Thursday, 16 August 2012

Mudik

Alhamdulillah, nggak seperti tahun kemarin, untuk tahun ini saya ikut mudik ke Yogyakarta. Alhamdulillah lagi tahun ini seluruh anggota keluarga berkesempatan untuk mudik. Nah, mumpung belum berangkat, saya sempatkan corat-coret dulu untuk mengucapkan "Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum. Minal adizin wal faizin, mohon maaf atas segala salah dan khilaf baik dalam ucapan maupun tulisan. Sekali lagi selamat berlebaran buat semua yang merayakan. Merdeka...!!"



share on facebook

Wednesday, 15 August 2012

Shopping

Berbelanja yang dalam bahasa Inggris alias bahasa kerennya disebut shopping, merupakan salah satu kegiatan yang sangat disukai oleh kaum Hawa. Ya... hampir semua kaum Hawa dalam berbagai usia, entah itu anak-anak, cewek remaja, ibu-ibu, hingga nenek-nenek sangat gemar melakukan shopping. Tak terkecuali adek cewek plus ibu saya. #eeeaaa
Mereka kaum Hawa betah berlama-lama di sebuah toko atau mall, terlebih lagi jika barang-barang yang dijual terdapat tulisan diskon, wah 7 hari 7 malam keliling mall buat melihat, memilah, dan (belum tentu) membeli pun mereka kuat. Yakinlah sumpah. Tak terkecuali adek cewek plus ibu saya. #ngik

Seperti hari itu. Saya mendapat mandat untuk mengantar ibu dan adek saya berbelanja. Katanya sih berbelanja bahan-bahan keperluan dapur, seperti gula, mie instan, beras, dan lain-lain. Nah saya didapuk untuk menjadi kuli angkut barang-barang yang nantinya akan dibeli. Okelah kalau begitu, berangkaaat.
Sesampainya di shopping center. kami pun keliling mencari bahan keperluan dapur. Kegiatan ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Rasa bosan dan pusing mulai hinggap. Entah berapa ratus orang yang sedang kumpul dan berbelanja di shopping center tersebut.

Mencari dan membeli bahan keperluan dapur akhirnya usai sudah. Kini giliran mencari keperluan pribadi, yaitu pakaian. Byuh, hampir di semua stand pakaian dijejali aneka rupa manusia. Rasa bosan dan pusing semakin menjadi. Adek saya mulai memilah-milah celana jeans. Menurut perhitungan jam tangan saya, untuk memilah satu celana jeans ini, adek saya memerlukan waktu kurang lebih setengah jam. Setelah ketemu celana jeans yang dimaksud, adek pun mencobanya di ruang ganti pakaian. Ndeh, ternyata apa yang dipilihnya tadi nggak cocok. Kembali kegiatan memilah celana jeans dilakukan. #makinmumet

Kurang lebih membutuhkan waktu satu jam memilih dan membayar di kasir untuk sebuah celana jeans. Kini giliran ibu saya memilih dan membeli jilbab. Amazing, nyaris sama, diperlukan waktu kurang lebih 1 jam-an untuk membeli dua buah jilbab...!! Sementara saya hanya berdiri mematung tengok kanan kiri persis seperti copet yang mencari mangsa, untungnya wajah kriminal saya tidak tertangkap mata satpam yang sedang berjaga. #beruntung

Demikianlah sekelumit kenyataan hidup yang ada. Tidak seperti kaum Adam yang jika membeli sesuatu cepat kilat dan tepat sasaran, kaum Hawa lebih bertele-tele. Entah ada suatu keasyikan tersendiri bagi kaum Hawa saat shopping, yang sampai saat ini saya belum mengetahui keasyikan apa yang ada di hati dan pikiran mereka. Kenyataan hidup lainnya?? Nyatanya saya kurang suka untuk diajak ber-shopping ria...!!


Jember, Ramadhan Kesembilan 1433 H

share on facebook

Damai dalam Kesederhanaan

Jam 14.00 WIB, Bimbim mengeluarkan motornya. Hari ini Bimbim sudah menyanggupi untuk mengantarkan CPU milik teman lamanya yang telah selesai di service. Farid nama teman lamanya, adalah seorang satpam yang bekerja di sebuah dealer motor di kota Jember. Jam 15.00 WIB saat Farid istirahat dari pekerjaannya, mereka berdua janjian di depan stadion Notohadinegoro, kemudian bersama-sama ke rumah Farid untuk merangkai CPU yang sudah Bimbim perbaiki tadi. 
Kurang lebih setengah jam perjalanan dari rumah, sampailah Bimbim di depan stadion, tempat Bimbim dan Farid janjian untuk bertemu. 30 menit kemudian datanglah Farid yang langsung mengajak Bimbim ke rumahnya. Sesampainya di sana, Bimbim langsung merangkai CPU dan mencoba menghidupkannya. Anaknya Farid yang baru berumur 7 tahun senang bukan kepalang.
"Tuh, komputernya sudah bisa, sama Om Bimbim juga sudah diisi game banyak. Tapi jangan lupa belajar, jangan cuma maen game aja", kata Farid kepada anaknya. Si anak hanya tertawa lebar.
Setelah ngobrol sejenak dan mengurusi biaya service, selanjutnya Bimbim langsung undur diri pulang.

Di tengah perjalanan pulang, Bimbim melihat sosok teman lama lainnya yang sedang berjualan bambu di pinggir jalan. 
"Assalamu'alaikum, woy, bos", sapa Bimbim.
"Boh, dari mana bos?", jawab Didik, teman lamanya Bimbim dengan logat Maduranya yang kental.
"Dari mengantarkan CPU ke rumahnya Farid", jawab Bimbim.

Didik dan Farid sudah saling kenal. Sebelum Farid bekerja menjadi satpam, sebelum Didik bekerja wiraswasta berjualan bambu, keduanya adalah sahabat yang bekerja di tempat yang sama, sebagai penjaga kios rokok di area kampus Jember. Di kios rokok inilah beberapa tahun yang lalu Bimbim kenal dan akrab dengan keduanya.

"Saya sama istri sama si kecil. Si kecil pulang sekolah langsung ke sini bos, itu mereka", kata Didik sambil menunjuk seorang wanita yang sedang berjualan buah blewah dan beberapa jenis kembang api, serta anak kecil umur 7 tahun yang sedang bermain sendiri.
"Le, ada Om Bimbim ini, Le", teriak Didik kepada Rafi, anaknya.

Bimbim kemudian memarkir motornya dan menghampiri Rafi serta ibunya.
"Wah, sudah besar rek, sudah sekolah SD ya, Le?", tanya Bimbim kepada Rafi.
"Iya, Om", jawab Rafi.
"Gimana Mbak, laris dagangannya?", tanya Bimbim kepada istrinya Didik.
"Lumayan Mas, mumpung bulan puasa cari kesibukan jualan blewah sama kembang api", jawab ibunya Rafi.
"Bos, buka puasa di rumahku saja bos, si kecil juga sudah kangen sama bos. Pokoknya hari ini harus buka puasa di rumahku bos. Sekali-kali menikmati buka puasa dalam suasana desa", paksa Didik kepada Bimbim.
"Haiyah, rumah saya juga di desa bos", jawab Bimbim.
"Pokoknya harus buka puasa di rumahku", paksa Didik lagi.
"Dek, ayo kemasi dagangannya", lanjut Didik memberi perintah kepada istrinya.
"Om, aku bonceng sama Om yah. Nanti tak tunjukkan jalan ke rumahku", pinta Rafi kepada Bimbim.
"Ok, siap", jawab Bimbim sambil tersenyum.

Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan dengan motor masing-masing ke rumah Didik. Sepanjang perjalanan si kecil Rafi mengoceh tiada hentinya menjelaskan rute perjalanan menuju rumahnya. Setelah melewati beberapa pematang sawah yang berada di belakang tembok besar gudang tembakau, sampailah mereka di halaman rumah yang baru saja dibangun dan belum rampung 100%.

"Ayo mandi dulu sana, Le", perintah Didik kepada anaknya.
"Takutnya nanti gelap bos, maklum nggak punya sumur, kalau mandi harus ke sungai", kata Didik kepada Bimbim.
"Ayo masuk bos, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Maaf rumahnya kotor", lanjut Didik.
"Halah, biasa bos, di rumah saya juga seperti ini", jawab Bimbim.
"Oiya sungainya di sebelah mana bos?? Saya mau wudhu', belum sholat ashar", lanjut Bimbim.
"Ayo saya antarkan bos. Le, ayo ke sungai bareng-bareng", panggil Didik kepada Rafi.
Setelah sholat ashar, Bimbim dan Didik pun ngobrol ngalur ngidul di ruang tamu. Sementara istri Didik sibuk di dapur menyiapkan menu untuk berbuka puasa.

Beberapa jam kemudian gema adzan maghrib pun berkumandang. Alhamdulillah... setelah semuanya berkumpul dan menu buka puasa sudah terhidang dengan sempurna, Didik pun mengajak Bimbim untuk berbuka puasa bersama. 
"Makan seadanya bos, ayo jangan malu-malu", kata Didik.
"Waduh, ini menunya sangat komplit dan istimewa bos, sampai bingung saya mau makan yang mana", jawab Bimbim.
"Makan yang banyak, Om, biar gemuk", celoteh Rafi.
"Wah, Om Bimbim nggak boleh makan banyak-banyak, Le. Nanti kalau gemuk bukan Bimbim lagi, tapi Bombom", gurau Bimbim.
"Hahahaha", Didik dan istrinya tertawa bersama-sama.
"Ayo tambah lagi nasinya bos", kata Didik sambil menyiduk nasi dan menumpahkannya ke piring Bimbim.
"Sudah bos, waduh saya itu nggak bisa makan banyak-banyak bos, nanti kekenyangan jadi nggak sanggup sholat tarawih", jawab Bimbim.
"Ayo Mas, makanannya masih banyak, nanti nggak ada yang makan", kata istri Didik.
"Bapaknya Rafi senang kalau ada temannya pas buka puasa gini", sambungnya.
Bimbim terlihat sangat lahap dan menikmati lalapan terong yang tersaji.

Setelah acara makan-makan selesai, Bimbim pun ijin untuk sholat maghrib. Didik mempersilahkan untuk sholat di kamar. Kemudian semuanya berkumpul di ruang tamu. Segelas kopi panas dan sebungkus rokok sudah dihidangkan. Sementara si kecil main kembang api bersama teman-temannya di teras depan. Suasana yang cukup menyenangkan.
Beberapa tetangga ada yang bertamu ke rumah Didik. Ngobrol santai sambil menikmati kopi.

Nggak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Tidak lama kemudian Bimbim pun pamit untuk pulang.
"Rafi, Om Bimbim pulang dulu ya Le, ini buat sangu ke sekolah", ucap Bimbim sambil menyerahkan lembaran uang ke Rafi.
"Terima kasih banyak bos, mbak, saya pamit pulang dulu", Bimbim pun pamit kepada Didik dan istrinya.
"Iya sama-sama bos, jangan kapok main-main ke desa", kata Didik.
"Waduh, ya nggak lah bos. Tempatku lho juga di desa. Sekali lagi terima kasih banyak. Ditunggu kunjungan balik ke rumah saya. Pamit dulu Assalamu'alaikum", timpal Bimbim.
"Wa'alaikumsalam", jawab Didik dan istri hampir bersamaan.

Bimbim pun pulang. Kembali membelah pematang sawah dalam gelap malam sambil bersyukur dan menikmati apa yang baru saja terjadi.


Jember, Ramadhan Kelima 1433 H

share on facebook

Friday, 13 July 2012

Petualangan Menuju Ranu Kumbolo


Mengawali postingan di bulan Juli ini, aku akan bercerita mengenai perjalananku menuju Ranu Kumbolo, yang berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sekedar informasi bagi yang belum tahu, Ranu Kumbolo adalah sebuah danau gunung yang luasnya kurang lebih 14 Ha. Ranu Kumbolo berada di ketinggian kurang lebih 2.400 Mdpl, berlokasi di kaki Gunung Semeru dan merupakan salah satu titik berangkat untuk mendaki Gunung Semeru. Biasanya para pendaki berkemah di area Ranu Kumbolo sebelum mendaki Gunung Semeru. Baiklah saatnya cerita petualangan menuju Ranu Kumbolo dimulai, here we go...

05 Juli 2012 
Rencana awal perjalanan menuju Ranu Kumbolo akan diikuti oleh empat orang termasuk aku. Nyatanya pada hari H, dua orang mengundurkan diri. Akhirnya ya tinggal aku dan temanku, Dayat, yang jadi berangkat. Kami berdua memutuskan berangkat berboncengan dengan motorku. Kurang lebih jam 08.00 WIB, kami berdua berangkat menuju Lumajang lewat jalur Jember Selatan. Dengan semangat '45 motor digeber dengan kecepatan sedang. Jam 10.00 WIB kami berdua sudah sampai di pasar Senduro, Lumajang. Di sini kami mengecek kembali barang bawaan kami dan melengkapi logistik yang belum ada, seperti air mineral, bubur instan, dan mie instan (mau bawa dari Jember males, berat di jalan hi..hi..hi).
Cek perlengkapan dan  logistik sudah beres, kurang lebih jam 10.30 WIB perjalanan kami lanjutkan menuju Desa Ranu Pani (area pemukiman terakhir sebelum mendaki menuju Ranu Kumbolo). Perjalanan masih panjang, rute menuju Desa Ranu Pani jalannya amburadul, hampir 75% jalan makadam. Separuh perjalanan, karena merasa capek terpontang-panting batu jalanan, kami pun memutuskan beristirahat sejenak. Sepanjang mata memandang yang ada hanya pepohonan hijau, hawanya begitu sejuk.

Setelah dirasa cukup beristirahat, perjalanan kami lanjutkan. Kurang lebih jam 13.00 WIB, kami pun tiba di Desa Ranu Pani. Selanjutnya kami pun mengurus surat perijinan di Pos Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Menyerahkan surat keterangan sehat, foto copy KTP, mengisi formulir perijinan, mengisi surat pernyataan (lupa nggak bawa materai tersenyum lebar), mengisi daftar barang-barang yang kami bawa, kemudian membayar biaya administrasi, dan akhirnya surat ijin mendaki ke Ranu Kumbolo pun kami kantongi. Selanjutnya kami menitipkan motor kami di area parkir yang sudah disediakan. Kurang lebih jam 13.30 WIB, dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, kami pun berangkat menuju Ranu Kumbolo.


Woke, perjalanan panjang dimulai, jalan pelan-pelan mengikuti track yang sudah ditentukan. Jalanan mulai menanjak, jantung mulai berdegup kencang, napas ngos-ngosan. Kami istirahat sejenak, menormalkan degupan jantung dan mengatur jalannya napas. Setelah jantung dan napas sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan, kami lanjutkan lagi perjalanan menyusuri jalan setapak.
Alam menunjukkan keindahannya. Cuaca cerah, hawa sejuk, pepohonan dan bukit hijau terhampar, nyanyian burung, tarian beberapa ekor tupai di atas pohon, bunga dengan aneka warna mengiringi perjalanan kami. Subhanallah... indah nian alam ini.
Saat rasa capek melanda kami pun istirahat sejenak sambil bertegur sapa dengan para pendaki lain. Di rasa istirahat cukup, perjalanan kami lanjutkan, begitu seterusnya. Kami mah orang-orang santai, lebih tepatnya sih kumpulan orang slenge'an alias setengah gila. Sepanjang perjalanan banyak ngelawak. Orang pendaki lain jalan pakai sepatu, minimal pakai sandal gunung, lha si Dayat pakai sandal jepit. Orang pendaki lain kalo' istirahat minum atau makan camilan buat nambah energi, eh kami malah merokok. Orang pendaki lain kalau lagi jalan ada yang mendengarkan musik tuh paling nggak yang didengerin lagu Top 40, lha kita jalan sambil mendengarkan lagu anak-anak... "Aku adalah anak gembala, selalu riang serta gembira.... " berguling di lantai. Nggak masalah, namanya juga kumpulan orang setengah gila, jadi harap dimaklumi aja. Perjalanan semakin menanjak, posisi semakin tinggi, wow... kami serasa berada di negeri atas awan, biutipul. Nggak terasa sore hari mulai menjelang, suasana semakin gelap, senter aku keluarkan untuk menerangi jalan. Kurang lebih jam 18.30 WIB, kami pun sampai di Ranu Kumbolo, posisi kami turun berada di seberang shelter (biasanya orang-orang mendirikan kemah di dekat shelter, di arah barat Ranu Kumbolo). Karena sudah capek dan gelap, akhirnya kami tidak melanjutkan perjalanan ke area shelter tempat orang-orang banyak mendirikan tenda. Kami putuskan untuk mendirikan tenda di tempat kami turun (seberang shelter), hawa dingin mulai menyergap. Setelah tenda berdiri, jaket, sarung tangan, dan kaos kaki dikenakan, kami pun masak mie instan untuk menghilangkan lapar. Makan mie instan diantara dinginnya malam yang bertabur berjuta bintang dan indahnya bulan purnama, sekali lagi sungguh biutipul. Acara makan selesai, kami pun segera masuk tenda dan menutup rapat badan dengan sleeping bag. Bbrrrrr.... dingin menusuk tulang, kaki seperti mati rasa, sepertinya suhu malam itu minus entah berapa derajat. Lha butiran-butiran embun dari kabut yang meresap di tenda jadi kristal es tipis-tipis man...!! Dengan badan sedikit menggigil, kami mencoba untuk bersitirahat memulihkan tenaga dan berharap pagi segera menjelang.

06 Juli 2012
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB, tapi hawa dingin masih menusuk tulang. Dengan malas kami keluar tenda. Wow... jam 07.00 WIB Ranu Kumbolo masih diselimuti kabut tipis, airnya sedingin es. Matahari sebenarnya sudah bersinar, cuaca cerah, tapi karena posisi kami berada di arah timur dan terhalang bukit, otomatis cahaya dan hangatnya matahari belum bisa kami rasakan. Kami hanya bisa memandang kumpulan kemah yang berada di seberang kami, betapa nikmatnya mereka sudah bisa menghangatkan diri pada sinar matahari. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan di area sekitar untuk mencari sinar matahari guna menghangatkan badan sambil jeprat-jepret pemandangan yang ada. Setelah puas menghangatkan badan dan menikmati cerahnya pagi, kami pun menyiapkan sarapan. Menu pagi ini adalah bubur instan plus kopi... nikmaaat.
Acara sarapan usai, kami pun bersiap berkemas untuk pindah ke arah sebelah barat Ranu Kumbolo (tempat shelter berada). Perjalanan dari sisi timur Ranu menuju sisi barat nggak begitu jauh, hanya saja jalan setapak memang sedikit menanjak. Akhirnya yihaaa...
Sampai lokasi, kami pun segera mencari tempat mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, Dayat memutuskan untuk beristirahat sejenak, sementara aku berbekal Canon 400D mencoba eksplor area sekitar. Tak lupa mencoba Tanjakan Cinta, yang konon mitosnya kalau kita bisa melewatinya dengan lancar tanpa menoleh ke belakang, maka cinta kita kepada pasangan kita akan abadi, oh so sweet hi..hi..hi. Ternyata Tanjakan Cinta jalannya memang sangat menanjak, cukup berat kalau berjalan ke puncak tanpa beristirahat. Dengan napas ngos-ngosan, akhirnya aku pun berhasil sampai atas Tanjakan Cinta... yeaa. Pemandangannya sungguh luar biasa, dari atas dengan arah pandangan ke timur kita bisa melihat keindahan Ranu Kumbolo, sementara dengan arah pandangan ke barat kita bisa melihat Oro-Oro Ombo (padang ilalang yang sangat luas) sekali lagi is biutipul.
Selepas  itu aku turun kembali ke tenda. Sampai di tenda Dayat sudah bangun, lalu kami pun bikin kopi dan bersantai di depan tenda. Menikmati segelas kopi, rokok, kacang, plus alunan musik Slank dari HP yang tidak bersinyal, oh God... Subhanallah, sungguh nikmat tiada terkira. Di sela-sela bersantai, datang seseorang memberi kami bungkusan logistik, ada kopi, teh, bumbu masak, gula, garam, bahkan beras. Yah, mungkin mereka iba melihat tampang kami dan akhirnya berinisiatif memberikan bantuan langsung tunai kepada kami tertawa.
Perlahan tapi pasti suasana dingin kembali datang, rupanya sore hari telah menjelang. Kabut datang berkali-kali, cuaca terlihat mendung. Layaknya seorang dukun, kami memprediksi kalau nanti malam gerimis akan turun. Untuk berjaga-jaga agar tenda tidak tembus (maklum tenda dome kami hanya tenda murah dengan single layer), akhirnya tenda kami lapisi dengan jas hujan yang aku bawa. Petang menjelang, dan benar prediksi kami, gerimis pun turun. Cuaca semakin dingin, kami pun masuk ke tenda dan melanjutkan acara ngopi dalam tenda. Karena hawa dingin semakin terasa, kami pun masuk ke sleeping bag masing-masing dan akhirnya ZzzZz... tidur.

07 Juli 2012
Hawa masih dingin, jam menunjukkan pukul 05.00 WIB. Alamak... aku harus bangun. Sunrise pagi ini harus diabadikan. Segera aku keluar dari sleeping bag dan membuka pintu tenda, tapi weleh... ternyata cuaca masih mendung dan sepanjang mata memandang ke depan yang tampak hanya kabut, kabut, dan kabut. Tanpa putus asa akhirnya aku tetap bangun, minum, nyalakan rokok, dan keluar tenda kemudian berjalan menuju area yang agak tinggi di belakang tenda. Ternyata di luar sudah ada beberapa orang yang sudah bersiap dengan kamera masing-masing dan ingin mengabadikan momen matahari terbit. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa cukup nyaman untuk mengambil view, aku duduk sambil berharap kabut dan mendung segera pergi dan berganti dengan datangnya matahari terbit. Rokok di tangan sudah habis, kembali aku nyalakan rokok baru, itung-itung menghilangkan dinginnya pagi. 1, 2, 3 batang rokok sudah habis, nyatanya pemandangan yang ada tidak berganti, hanya ada kabut, kabut, dan kabut. Beberapa orang yang sejalan dengan keinginanku untuk mengabadikan matahari terbit, satu persatu mulai pergi. Sementara aku masih setia menunggu, menunggu, dan menunggu. Setelah lama menunggu dan ternyata apa yang ditunggu tak kunjung datang, aku pun memutuskan kembali ke tenda. Si Dayat rupanya sudah bangun dan duduk santai di depan tenda. Setelah cuci muka dengan dinginnya air Ranu Kumbolo, kami mulai masak untuk sarapan. Acara masak dan sarapan selesai, dan kami tutup dengan menikmati segelas kopi... santai di depan tenda. Kemudian kami packing, membersihkan sampah dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah yang ternyata sudah di sediakan di area Ranu Kumbolo, serta bersiap turun kembali ke Pos Ranu Pani. Setelah semuanya selesai kurang lebih jam 11.00 WIB, kami pun turun ke Pos Ranu Pani. Sepanjang perjalanan kami berinisiatif memunguti sampah-sampah plastik yang berserakan dan dibuang begitu saja oleh orang-orang yang lewat. Ada plastik bekas air mineral, bungkus permen, bungkus mie instan, bungkus coklat, bungkus snack, dan lain sebagainya. Sampah-sampah tadi kami kumpulkan ke dalam tas plastik dan mengikatkannya ke tas carrier kami. Sebuah penghormatan kecil kami terhadap alam. Seharusnya kita sadar diri, alam sudah memberikan keindahannya kepada kita, tapi kenapa kita malah mengotorinya?? Ya nggak?? Yah, semoga ke depannya kita semua diberi kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Amin. (cieee... tumben kumpulan orang yang sedikit gila bisa berpikir waras) tertawa.

Alhamdulillah perjalanan lancar, karena jalan yang dilalui lebih banyak menurun dari pada menanjak, walau tetap saja bikin kami ngos-ngosan. Kurang lebih jam 15.00 WIB kami sampai di Pos Ranu Pani. Kami pun melapor kembali ke Pos, untuk memberitahukan bahwa kami sudah turun dengan anggota lengkap sesuai dengan laporan sebelum berangkat. Acara laporan selesai, selanjutnya aku ambil motor di bagian parkir, jam 15.30 WIB kami pun pulang kembali ke Jember. Sekali lagi perjalanan lumayan lancar, walau jalan makadam tapi track nya menurun. Ranu Pani - Senduro - Lumajang - Jember (via utara alias jalan utama). 18.30 WIB kami pun selamat sampai rumah. Yeah... petualangan yang menyenangkan, dan suatu saat aku akan kembali lagi untuk mengunjungimu wahai Ranu Kumbolo.

Beberapa Hasil Jepretan
 


share on facebook