"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Showing posts with label Fotografi. Show all posts
Showing posts with label Fotografi. Show all posts

Wednesday, 6 June 2012

Error 99 di Kameraku


Konon Error 99 ini adalah penyakit bawaan kamera DSLR Canon. Biasanya penyakit ini menyerang lensa kit dari kamera. Saat kita akan memotret sebuah obyek, tiba-tiba di layar LCD muncul tulisan Error 99 dan kita diminta untuk mematikan kamera kemudian menghidupkannya kembali. Error 99 menyerang lensa bisa pada range tertentu atau secara keseluruhan.
Nah kebetulan kamera jadulku (EOS 400D) mengalami penyakit ini. Error 99 muncul saat zoom ring diatur pada range tertentu. Cukup menyebalkan memang. Setelah googling, banyak tips dan trik untuk mengatasi penyakit bawaan ini. Beberapa tips menyarankan agar kita membersihkan konektor (terminal kuningan) dengan penghapus pensil, tapi setelah aku coba nyatanya cara ini tidak berhasil (atau mungkin caraku yang salah??). Ada pula yang menyarankan untuk membawa ke tempat service resmi guna menanggulangi penyakit Error 99 ini, bahkan ada pula yang menyarankan agar kita membeli lensa baru saja dari pada merepotkan. Huaaa... padahal harga lensa kan nggak murah. Eman kalo' kataku (maklum kere) hi..hi..hi.

Akhirnya ada sebuah tips dan trik yang aku dapat dari forumnya Fotrografer.net. Setelah aku praktekkan, alhamdulillah Error 99 bisa diatasi. Bagaimanakah caranya?? Cukup simpel.
Tinggal pasang secuil selotip pada konektor (terminal kuningan) yang ada pada lensa kit...!!
Apa bisa?? Lha buktinya bisa. Apa nggak bahaya?? Alhamdulillah sudah beberapa bulan dipraktekkan, sampai sekarang masih tokcer nggak ada masalah, lagian bukan bom kan, jadi nggak bahaya kok tersenyum lebar.
Namun, perlu diingat, bahwasannya cara tersebut di atas tetap mempunyai konsekuensi. Apakah itu??
Karena konektor (terminal kuningan) di lensa dikasih selotip, otomatis lensa nggak konek dengan body kamera, sehingga dalam hal ini lensa kamera nggak terbaca oleh body kamera. Maka setting aktivitas memotret semuanya dilakukan secara manual (baik itu mode kamera, maupun pengaturan lensa). Dengan kata lain, lensa kamera nggak bisa di-auto focuskan. Aku pikir itu nggak masalah tho?? Dari pada lensa dibuang sayang, alias tergeletak tidak digunakan hayoo?? Itung-itung menajamkan mata dan feeling saat motret.
Nah, di sini body kamera kan nggak membaca lensa, terus pengaturan aperture nya gimana??
Untuk pengaturan aperture nya, disetting dahulu saat lensa belum di selotip. Jadi sebelum di kasih selotip, pasang lensa pada kamera, kemudian pilih mode Manual, dan setting aperture nya. Setelah itu lepas lensa, pasang selotip, dan pasang kembali lensa pada kamera. Secara otomatis aperture akan mengikuti settingan kita tadi. Aku di sini menyetting aperture dengan bukaan kecil (F/11), karena lensa yang berselotip ini biasanya aku gunakan untuk memotret landscape. Sementara untuk potrait atau close-up aku pakai lensa cadangan, lensa Fix 50 mm.

Baik, demikianlah sedikit tips dan trik untuk mengatasi Error 99 yang biasanya muncul di DSLR Canon. Semoga bermanfaat. Salam jepret metal metal!!.


share on facebook

Tuesday, 22 May 2012

Refreshing Ke Bali

Assalamu'alaikum.
Baiklah mari kita mulai cerita singkat saat refreshing ke Bali pada bulan Maret 2012 kemarin. Lho, kok baru di posting sekarang?? Karena kemarin-kemarin lagi males mau posting menjulurkan lidah. OK, here we go...!!
Berangkat ke Bali tanggal 18 Maret 2012 malam, sekitar jam 20.00 WIB dengan Travel Cipaganti. Ngeng..... sampai Bali sekitar jam 02.30 WITA, turun di hotel The 101 Legian. Busyeet kepagian, karena ternyata hotel di booking jam 12.00 WITA, otomatis kita check in juga harusnya jam segitu. Luntang-lantung di lobi hotel mirip gelandangan sambil nguap sana nguap sini karena ngantuk. Ngobrol ngalur ngidul, akhirnya teman saya menghubungi temannya yang tinggal di daerah Tabanan Bali. Tujuannya sih minta antar jalan-jalan sekalian nunggu waktu check in tiba. Temannya teman saya menyanggupi, dan siap menjemput jam 09.00 WITA nanti. Ngobrol-ngobrol lagi, jam 08.00 WITA kedai Starbucks yang ada di hotel buka, karena pusing dan ngantuk, akhirnya ngopi dulu di kedai Starbucks (sebenernya sih kurang ngeh sama kopi racikan Starbucks, maklum lidah ndeso baru kerasa kalau nyruput kopi asli yang hitam, tapi apalah daya dari pada ngantuk). Nggak lama kemudian temannya teman saya datang menjemput.

19 Maret 2012
Langsung cabut dari hotel, jalan-jalan sebentar lihat monumen Bom Bali di sekitar jalan Legian.












Habis itu lanjut lihat suasana pantai Kuta.












Setelah puas bermain dengan suasana pantai, perjalanan di lanjutkan ke area wisata yang adem bin sejuk, Hutan Mangrove di Denpasar Bali.












Keliling-keliling Hutan Mangrove sampai sore hari, akhirnya memutuskan balik ke hotel. Sampai hotel check in, mandi, dan langsung tiduuurrrr. Capek prends.

20 Maret 2012
Hari kedua di Bali dilanjutkan berwisata bersama travel lokal. Start mulai jam 09.00 WITA. Tujuan pertama adalah nonton Barong Dance di daerah Batubulan.

















Sehabis nonton Barong Dance perjalanan di lanjutkan ke daerah Kintamani, lihat pemandangan Danau dan Gunung Batur sambil istirahat makan siang.












Setelah kenyang dan puas menikmati kesejukan dataran tinggi Kintamani, perjalanan dilanjutkan ke Pura Tampaksiring.












Dari Pura Tampaksiring perjalanan dilanjutkan ke Pasar Sukowati. Di Pasar Sukowati, saya sendiri malas untuk masuk, cuma nongkrong di warung cari minuman. Entah kenapa saya kurang begitu suka shopping. Setelah teman saya beserta teman-temannya yang lain selesai belanja, perjalanan dilanjutkan pulang menuju hotel. Sampai hotel mandi, dilanjutkan nongkrong. Kemana?? Ah... lagi-lagi cuma ngopi di kedai Starbucks yang ada di hotel. Menikmati segelas kopi plus sebungkus rokok sampai malam, lalu tidur.

21 Maret 2012
Hari ketiga jalan-jalan kembali bersama temannya teman saya yang tinggal di Bali. Jam 08.00 WITA sudah di jemput, siap-siap menuju Pantai Nusa Dua. Sampai di sana gerimis, karena sejak berangkat cuaca memang mendung. Alhasil niatan untuk mencoba paralayang di Pantai Nusa Dua kandas sudah. Mau photo-photo juga males, karena gerimis. Setelah istirahat sejenak, diputuskan untuk pulang saja. Begitu perjalanan pulang, lha kok ndilalah cuaca terang, akhirnya mampir sejenak ke Pantai Kuta.












Puas jalan-jalan plus nonton orang surfing sampai sore. Kembali ke hotel. Packing dan siap check out. Setelah keluar hotel, masih bersama temannya teman saya, kami semua diajak mampir dulu ke rumah beliau di daerah Tabanan. Istirahat sejenak, terus lanjut ke Tanah Lot.












Di tanah lot sampai sore hari, terus kembali ke rumah temannya teman saya. Packing dan siap pulang. Cari bis untuk mengantar pulang ke Jember. Alhamdulillah sampai di rumah dengan selamat jam 03.00 WIB. Lumayan puas. Cukup sekian dan terima kasih. tersenyum lebar 
Wassalamu'alaikum.


share on facebook

Thursday, 16 February 2012

Human Interest

Ok, apa itu Human Interest??
Berkaitan dengan fotografi, Human Interest kurang lebih bisa diartikan sebagai foto yang obyek utamanya adalah manusia, baik secara individu maupun kelompok dengan segala interaksi dan aktivitasnya, biasanya ditujukan untuk menampilkan mood atau emosional dari obyek yang bersangkutan. Bingung?? Ya maklum, saya menjabarkan memang sedikit ngawur monyet.

Beberapa contohnya [mungkin] seperti ini :



Nah, [kira-kira] seperti itu contohnya. Tapi mungkin salah ya?? Ah, entahlah. Pada dasarnya saya sendiri suka memotret hal-hal seperti di atas [red, Human Interest]. Biasanya hal ini dilakukan secara candid, walaupun ada beberapa juga yang menerapkan dengan konsep. Akan tetapi di konsep pun, nggak sampai seperti kita motret potrait model gitu, jadi tetep lebih mengedepankan aktivitas dan emosional obyek secara natural. [Lagi-lagi ngawur] menjulurkan lidah.

Kalau anda juga tertarik dengan Human Interest, anda bisa bergabung di group facebook pecinta Human Interest, namanya HIPI [Human Interest Photography Indonesia], di situ anda bakal disuguhi hasil jepretan para master Human Interest, yang hasilnya sangat ciamik.

Sekian dari saya dan salam jepret tersenyum lebar.

share on facebook

Friday, 10 February 2012

Jepret

Baik, tibalah kita pada saat yang berbahagia [mulai ngawur] menjulurkan lidah.
Seperti yang sudah saya janjikan pada postingan yang dulu, kali ini saya akan mengulas tentang kamera DSLR yang baru saya miliki. Sebuah kamera jadul tapi cukup membuat saya senang. Kenapa jadul?? Ya karena sudah nggak diproduksi lagi sama produsennya tertawa. OK, kamera yang baru saya miliki adalah Canon EOS 400D. Menurut penelusuran di google, kamera ini adalah generasi penerus dari EOS 350D. Kamera ini ditujukan buat sarana pembelajaran di bidang fotografi bagi pemula seperti saya.
November 2011, saat saya akan membelinya, si penjual mematok harga Rp. 3.500.000; pas nggak boleh nego. Sebelum beli, tentunya saya searching dulu di google, berapa sih sebenarnya harga pasaran Canon EOS 400D second. Ternyata dari hasil penelusuran muncul beraneka ragam harga, mulai Rp. 3,2 jt, Rp. 3,3 jt, sampai Rp. 3,6 jt. Saya pikir yah mungkin harga Rp. 3,5 jt memang pantas lah. Kemudian tibalah saya pada saat yang berbahagia [halah], saya langsung ketemuan dengan penjualnya atau istilah dagang sekarang COD. Saya cek itu barang, kondisinya masih bagus, semuanya masih berfungsi dengan normal. Hanya saja di pojok atas hasil jepretan selalu terdapat semacam noda. Saya sempat berpikir, wah kemungkinan jamur nih. Penjual juga mengatakan bahwa kamera jarang sekali digunakan dan selalu tersimpan dalam tas dan diletakkan di dalam lemari, hal ini semakin menguatkan dugaan saya, bahwa noda pada hasil jepretan adalah jamur... damn...!!
Canon EOS 400D plus lensa kit 18-55 mm, lengkap dengan baterai, compact flash (memori) 4 gb, kabel data, charger, dan tas yang semula dibandrol Rp. 3,5 jt saya coba tawar Rp. 3 jt. Tawar menawar berlangsung cukup alot. Si penjual bersikukuh bahwa kondisi kamera masih bagus dan memang sedang membutuhkan dana sebanyak Rp. 3,5 jt, tidak kurang tidak lebih. Sementara saya juga bersikukuh bahwa jamur yang ada di dalam bodi kamera menjadi nilai minus. Akhirnya si penjual merelakan lensa fix 50 mm plus filter UV yang semula akan dijual terpisah, terpaksa diikut sertakan sebagai bonus setan. Saya pun menyetujuinya. Deal, done...!! Canon EOS 400D plus lensa kit 18-55 mm, lengkap dengan baterai, compact flash (memori) 4 gb, kabel data, charger, tas, serta bonus lensa fix 50 mm plus filter UV nya akhirnya saya beli.
Saat itu rasanya senang riang gembira, karena sebuah kamera DSLR yang sudah lama saya idam-idamkan akhirnya jatuh dipelukan pipi memerah. Biar kata barang bekas dan tipe jadul, tapi tetep i love you full.
Menurut google spesifikasi EOS 400D ini adalah : Resolusi Maksimum 3888 x 2592, ISO = Auto (100-400), 100-1600, Jenis sensor = CMOS (22.2 x 14.8 mm), Processor = Digic II, Media Compact Flash Type I or II (Microdrive Supported), Shutter Speed = 1/4000 detik sampai 30 detik, Blub, Auto Focus dan Manual Focus, LCD 2.5" ( 230,000 Pixels TFT), Hotshoe, Build in Flash (Pop-up), Plug-and-play USB Interface, Video Out, Battery Lithium-Ion NB-2LH, E3 type wired remote control, Supports Exif 2.2, Ukuran : 5.0 x 3.7 x 2.5 in, Berat : 514g tanpa battery & memory.

Beberapa hasil jepretan awal :

Judulnya : Sisa Hujan.
Deskripsi : Ini adalah sisa air hujan yang masih menempel di kawat jemuran menjulurkan lidah. Diambil sore hari sesaat setelah hujan reda.
Data Exif : Canon EOS 400D DIGITAL, Shutter Speed : 1/60 sec., Lens Aperture : F/5,6, Focal Length : 55 mm, ISO Speed : ISO-400, Creation Software : Adobe Photoshop CS Windows.

Judulnya : Gelas Kampungan.
Deskripsi : Coba-coba untuk mengaburkan obyek di depan (rokok dan korek) serta fokus kepada obyek yang ada di belakang (si mug Slank Kampungan). Trus rubah warna menjadi sedikit sephia lewat PS tersenyum lebar.
Data Exif : Canon EOS 400D DIGITAL, Shutter Speed : 1/100 sec., Lens Aperture : F/5,6, Focal Length : 55 mm, ISO Speed : ISO-100, Creation Software : Adobe Photoshop CS Windows.

Judulnya : Debur Ombak.
Deskripsi : Diambil saat refreshing ke Pantai Papuma Jember. Ngilangin jenuh sekalian mencoba kamera yang baru di dapat.
Data Exif : Canon EOS 400D DIGITAL, Shutter Speed : 1/800 sec., Lens Aperture : F/10, Focal Length : 18 mm, ISO Speed : ISO-400, Creation Software : Adobe Photoshop CS Windows.

Judulnya : Mari Mengaji.
Deskripsi : Iseng-iseng pas listrik padam, coba jepret candle light. Jadi ini jepretnya pake' mode flash off, seingat saya ini pake' lensa fix 50 mm. Jadi untuk ngepaskan obyek yang akan di jepret harus orangnya sendiri yang maju mundur tersenyum lebar.
Data Exif : Canon EOS 400D DIGITAL, Shutter Speed : 1/15 sec., Lens Aperture : F/1,8, Focal Length : 50 mm, ISO Speed : ISO-400, Creation Software : Adobe Photoshop CS Windows

Semua gambar di atas sudah saya kecilkan ukurannya, karena kalo' dibiarkan sesuai aslinya takut loadingnya lama. Maklum internetnya belum bisa secepat kaya' di negara Jepang [sok tau... padahal ke Jepang aja belum pernah menjulurkan lidah].

Jadi demikianlah ulasan mengenai kamera baru saya... eh, maksudnya kamera second yang baru saya miliki. Mohon maaf kalo' hasil jepretannya masih ancur-ancuran, maklumlah masih cupu dan masih belajar. Bagi anda yang kebetulan melihat artikel plus foto-foto di atas, dan anda adalah seorang forografer yang profesional, saya sangat berharap bisa berguru kepada anda. Terima kasih hebat.

share on facebook