"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Wednesday, 27 March 2013

Break Sejenak


Wah udah lama nggak posting di blog. Ada apa gerangan??
Orangnya sedang sibuk...!! Alhamdulillah sedang dapat proyek kecil-kecilan nih. Jadi tukang entri data Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk acara Pemilihan Kepala Desa Bangsalsari, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Tahun 2013 yang akan digelar bulan Mei 2013 nanti hehehe. Data yang di input cukup banyak sih. Orang se-Desa Bangsalsari...!! Terdiri dari lima dusun...!! *lebay 
Jadinya benar-benar nggak ada waktu buat nge-blog. Alhasil catatan perjalanan ke Gunung Lawu dan Gunung Argopuro harus di pending dulu. Penasaran seperti apa catatan perjalanan saya ke 2 gunung tersebut?? Sabar, nunggu tugas saya selesai dulu, baru nanti tak ceritakan kepada sampeyan semua hahaha... Udah dulu ya, ini lagi di telpon sama Pak Ketua Panitia, nanya'in progress penginputan data hehehe... Piss, Love, and Gaul.

share on facebook

Monday, 11 February 2013

Mendaki Gunung Welirang

Desember 2012, musim hujan sudah tiba dengan intensitas yang cukup sering. Keinginan untuk mbolang terasa menggebu-gebu. Ngobrol-ngobrol bareng friend in crime selama mbolang, Si Dayat, ternyata juga pengen banget ngluyur entah kemana, asal bisa refreshing menghilangkan kepenatan. Terjadilah suatu obrolan ringan antara saya dan Dayat, alhasil dari obrolan ringan tersebut disepakati 2 hari lagi mbolang mendaki Gunung Welirang yang terletak di perbatasan Pasuruan - Malang, Jawa Timur.

Akhir kata demikian dan terima kasih. Eh??!!

Maksudnya... Akhirnya tanggal 07 Desember 2012 malam, kami berdua berangkat berboncengan naik motor. Tujuan awal kami adalah menuju rumah Seno di daerah Trawas, Mojokerto. Seno ini merupakan teman seperjuangan dan sependeritaan saat jaman kuliah dulu. Nah, menurut Seno, rumahnya itu cukup dekat dengan Pos Perijinan Pendakian di Tretes, Pasuruan. Ngeeeeng... sampai di Probolinggo kami istirahat sejenak di sebuah rumah makan untuk makan (Lha, masa' di rumah makan cuma numpang duduk... Hahaha). Eh iya, anak pemilik rumah makannya cantik lho (Begh... sebenarnya yang lapar perut atau mata kami? Entahlah... Koplak). Makan telah usai, perjalanan berlanjut, hingga sampai di pertigaan jalan, kami ambil ke kiri lewat Tretes, karena menurut Seno, kalau ambil lurus langsung ke Trawas, jalannya lebih rawan. Dari daerah Tretes menuju Trawas jalannya berkelok-kelok naik turun. Hingga akhirnya sampailah kami di rumah Seno. Setelah ngobrol ngalor ngidul berteman kopi dan rokok, kami pun istirahat.


08 Desember 2012 pagi, kami berdua bersama Seno menuju pasar untuk berbelanja kebutuhan logistik pendakian. Setelah kebutuhan logistik terpenuhi, Seno mengajak kami jalan-jalan hingga sampailah kami ke tempat wisata Air Terjun Dlundung, Trawas, Mojokerto. Sesaat setelah memarkirkan motor, Seno berinisiatif untuk pulang sebentar guna mengambil kamera SLR milik saya. Karena Seno pikir sayang kalo' sudah masuk area wisata tapi tidak didokumentasikan. Beberapa saat kemudian Seno datang sambil berkalung kamera SLR, lalu kami bertiga lanjut menyusuri jalan setapak yang sedikit menanjak untuk sampai di Air Terjun Dlundung. Sampai di sana, Seno langsung bersiap memotret pemandangan yang ada. Tapi lho?? Kamera kok nggak mau nyala?? Ternyata eh ternyata baterai kamera yang semalam saya charge lupa di bawa serta oleh Seno. Cuuk... Koplak. Mana kami semua bertiga nggak ada yang membawa HP. Akhirnya dengan menelan sedikit kekecewaan kami menikmati indah dan segarnya air terjun tanpa ada dokumentasi sama sekali. Setelah puas menikmati Air Terjun Dlundung, kami kembali ke rumah Seno untuk packing persiapan pendakian Gunung Welirang.

Packing, mandi, dan sarapan sudah selesai, kemudian Seno beserta anak dan istrinya mengantar kami ke Pos Perijinan Pendakian Gunung Welirang di Tretes, Pasuruan. Nantinya motor milik Dayat akan dibawa kembali oleh Seno. Sampai di hotel Tanjung, kami menyeberang jalan dan sampailah di Pos Perijinan Tretes. Saat ditanya oleh bapak petugas perihal rencana pendakian, kami menjawab hendak ke Gunung Welirang dan lanjut ke Gunung Arjuno, tetapi bapak petugas mengatakan, seandainya cuaca tidak memungkinkan lebih baik tidak usah lanjut ke Gunung Arjuno, karena saat ini sudah memasuki musim hujan dan cuaca di atas seringkali sulit ditebak. Kami pun mengiyakan anjuran bapak petugas tadi. Setelah menitipkan KTP asli dan mengurusi biaya perijinan, kami berdua langsung berjalan perlahan menyusuri jalan setapak berbatu yang sudah tertata rapi di belakang pos perijinan. Kurang lebih jam 12.00 WIB pendakian Gunung Welirang dimulai.


Kami masih menyusuri jalan berbatu tertata rapi yang konturnya terus menanjak. Sampailah di pertigaan jalan, ke kanan menuju wisata Air Terjun Kakek Bodo, sedang ke kiri menuju jalur pendakian Gunung Welirang. Tidak lama kemudian sampailah kami di Pos I, Pet Bocor. Di Pos I terdapat warung yang buka, kami menyempatkan singgah sejenak untuk ngopi hahaha... Benar-benar pendakian santai tanpa terburu waktu. Saat santai di warung kami melihat satu mobil jeep 4x4 off-road sedang turun sambil mengangkut belerang. Ya... jalan berbatu yang tertata rapi memang sudah dibuat demikian untuk memudahkan perjalanan mobil pengangkut belerang. Usai ngopi, kami melanjutkan perjalanan. Cuaca panas, jalan terus menanjak. Saat istirahat di jalan, kami bertemu 2 orang turis asing. Saling say hello, si turis kemudian melanjutkan perjalanannya. Akhirnya kurang lebih jam 16.30 WIB setelah melewati 2 makam, sampailah kami di Pos II, Kop-kopan. Di Pos II juga terdapat warung yang masih buka, terlihat 2 orang turis tadi sudah berada di sana. Di seberang warung terdapat sumber mata air yang bisa digunakan untuk mengisi persediaan air. Setelah mencari lokasi yang pas untuk mendirikan tenda, kami sholat bergantian, dilanjutkan mendirikan tenda dan bikin kopi.

Malam menjelang. Beberapa pendaki sampai di Pos II dan mulai mendirikan tenda. Kami berdua masih menikmati kopi dan rokok sambil memandang gemerlap lampu-lampu kota Tretes dan Trawas yang tampak seperti bintang terang jika dipandang dari Pos II. Sungguh indah. Beberapa saat kemudian gerimis datang. Kami segera beres-beres dan memutuskan masuk tenda untuk istirahat mempersiapkan fisik guna melanjutkan perjalanan esok hari.

09 Desember 2012 pagi hari menjelang, suasana masih dingin, cukup cerah. Suasana di luar sudah ramai oleh obrolan dan teriakan sekelompok pendaki lain. Tampak Gunung Penanggungan kokoh berdiri, tampak seperti miniatur Gunung Semeru. Dengan santai kami menikmati keindahan pagi hari, sambil bikin kopi dan sarapan. Sarapan sudah selesai, isi air persediaan sudah selesai, saatnya packing. Setelah berbasa-basi menyapa dan berbagi senyum kepada tenda tetangga, kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Jalanan masih tetap berbatu dan menanjak, nggak ada bonus sama sekali. Pernah saya baca di suatu blog, seorang pendaki asal jogja malah menyebutnya "Tanjakan Asu", karena tanjakannya memang benar-benar bikin kita mengumpat "Asuu..!!" Hahaha... Koplak. Lama berjalan, kami istirahat sejenak sambil menikmati sebatang coklat untuk menambah energi. Saat istirahat itulah lagi-lagi kami bertemu 2 turis yang kemarin. Tapi kali ini 2 orang turis tadi dalam perjalanan turun, rupanya kemarin sore setelah istirahat di Pos II mereka langsung melanjutkan perjalanan ke puncak. Perjalanan berlanjut, kondisi fisik saya mulai lemas, sebungkus mie instan dan bubur instan saat sarapan tadi pagi di Pos II rupanya telah lenyap dari perut saya. Lapar melanda, langkah semakin gontai sementara trek pendakian tetap saja menanjak. Finally dengan sisa tenaga yang ada sampai juga kami di Pos III, Pondokan, yeaaah. Pos III, Pondokan merupakan tempat pemukiman sementara milik para penambang belerang, disitu banyak berdiri gubug-gubug bambu sederhana yang digunakan oleh para penambang untuk tidur dan masak, sementara di bagian lembahnya terdapat sumber mata air. Setelah mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda, kami segera masak (mie instan lagi hahaha) untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sedari tadi. Jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, terjadi perdebatan diantara kami. Karena sudah kenyang saya menginginkan untuk summit attack saat itu juga, sementara Dayat ragu untuk menuju puncak, karena takut kemalaman di jalan. Lama berdiskusi akhirnya kami sepakat untuk mencoba summit attack. Agar beban yang dibawa tidak terlalu berat, kami meninggalkan tenda dan peralatan lain yang tidak dibutuhkan di pos pondokan, peralatan-peralatan yang tidak dibawa kami sembunyikan di semak-semak belukar sekiranya aman. Setelah itu kami pun berangkat menuju puncak Welirang. Lama berjalan, sampai di tengah hutan pinus, keraguan kembali muncul. Sepertinya pendakian sore itu juga harus dibatalkan, kondisi tidak memungkinkan, mendung mulai datang, kami khawatir sebentar lagi hujan turun. Kami pun kembali ke Pos III, benar dugaan kami beberapa saat kemudian setelah tenda berdiri, hujan turun cukup deras. Kegiatan sakral ngopi di malam hari terpaksa kami tiadakan, kami langsung masuk tenda hingga akhirnya terlelap tidur.
10 Desember 2012, sayup-sayup terdengar suara ayam hutan berkokok. Ternyata waktu sudah menunjukkan jam 07.00 WIB , walah dalah rupanya bangun kesiangan hahaha... Koplak. Rupanya persediaan logistik berat tinggal 3 bungkus mie instan dan 1 bungkus bubur instan. Sementara logistik ringan tinggal 1 bungkus roti, 2 batang coklat, dan 1 bungkus nutrijell. Yeah... nasib pendaki kere huahahaha. Akhirnya kami memasak air untuk merebus nutrijell dengan tambahan nutrisari sebagai bahan pemanisnya (Aneh kan?? Nggak usah kaget, kami memang kumpulan orang aneh). Setelah masak, nutrijell kami masukkan ke nesting dan dibiarkan dingin untuk selanjutkan kami bawa sebagai bekal di puncak nanti. Sementara untuk mengisi perut sebelum summit attack, kami makan 1 bungkus roti dibagi 2, segelas susu coklat untuk masing-masing (Memangnya kenyang?? Anggap saja kenyang haha). Oke, peralatan yang tidak perlu dibawa lagi-lagi kami sembunyikan di semak-semak dan berdoa agar aman sentosa. Perjalanan summit attack dimulai, trek menuju puncak masih tetap berbatu dan menanjak. Ada sekelompok penambang belerang yang sedang membetulkan tumpukan batu di jalan, kami saling menyapa dan tebar senyum. Beberapa jam kemudian sampailah kita di trek rata, suara angin menderu-deru, hamparan bunga edelweiss tampak mengering. Kami istirahat sejenak, kembali mengisi energi dengan 1 batang coklat dibagi 2 hehehe. Saat istirahat kami disapa oleh seorang penambang yang hendak turun. Penambang meminta rokok, saya beri rokok, kemudian ingin meminta air, tapi nggak jadi, karena air milik kami berasal dari air sumber alias air mentah, bukan air masak. Eh... busyet, nih penambang sombong banget yak, nggak mau minum air mentah hahaha. Kejadian tadi segera kami lupakan, dan kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jalan setapak dengan tebing tinggi dan lembah yang cukup curam, tidak lama kemudian sampailah kami di hamparan tanah luas, persis di bawah puncak Gunung Welirang, alhamdulillah. Kami istirahat sejenak dan memulai membuka bungkusan keramat kami. Yaa... saatnya mencicipi jelly yang telah diramu dengan pemanis nutrisari. Kenyaang... kami kemudian melanjutkan perjalanan  dengan memilah-milah trek menanjak menuju puncak. Alhamdulillah sampai juga di puncak, karena cuaca cukup bersahabat, pemandangan di atas sungguh indah. Langit biru, lautan awan, dapur belerang tempat penambang bekerja, Gunung Arjuno tampak jelas memanjakan mata kami. Subhanallah...


Setelah mendokumentasikan beberapa pemandangan indah dan diri sendiri tentunya, kami pun turun untuk langsung kembali ke Pos III, Pondokan dan tidak jadi melanjutkan perjalanan menuju Gunung Arjuno, karena cuaca, waktu dan perbekalan logistik memang tidak memungkinkan. Seperti biasa, perjalanan turun tentunya lebih cepat dari pada perjalanan naik. Dengan waktu separuh dari perjalanan naik, sampailah kami di Pos III. Sampai di Pos Pondokan, kami segera packing peralatan. Gerimis turun lagi, kami segera membuat bivak dari ponco, kemudian kami lanjutkan memasak 2 bungkus mie instan yang tersisa sebagai tambahan energi untuk turun pulang. Masakan sudah selesai dan hampir tersaji, tiba-tiba datang bapak penambang. Ya seorang pria paruh baya yang saya temui dan saya kasih rokok saat perjalanan menuju puncak. Bapak penambang tadi kembali minta rokok, Dayat langsung kasih 1 bungkus rokok, eh bapak tadi masih mencari-cari yang lain, dengan bicara bahasa jawa nggak jelas, langsung maen embat minuman nutrisari kami. Wah... jujur saya sedikit jengkel. Seandainya si bapak masih tetap maen embat milik kami yang lain, apalagi makanan kami, saya siap perang dah. Mungkin karena badan saya sudah capek, sisa makanan yang dimasak juga merupakan persediaan terakhir, sikap bapak penambang yang kurang sopan itulah penyebab saya jengkel. Bahkan saya sempat berbisik kepada Dayat, seandainya beneran makanan terakhir kami diembat juga, saya bacok tuh bapak. Hahaha... konyol dan kekanak-kanakan ya saya... Koplak. Yah.... beberapa kondisi di atas itulah yang membuat saya bersikap seperti itu. Dengan pasang muka sedikit jengkel saya bilang ke bapak tadi, "Wes, gak onok meneh, pak... Sudah tidak ada lagi, pak". Akhirnya bapak penambang tadi pergi tanpa basa-basi atau mengucapkan terima kasih. Sambil menikmati makan, saya masih ngedumel soal sikap bapak tadi, heran... padahal bapak-bapak penambang yang lain sopan-sopan dan enak diajak ngobrol, cuma bapak penambang tadi yang bersikap kurang sopan. Baiklah kita lupakan masalah tadi, anggap saja sebagai sedekah dan penguji kesabaran.
Makan selesai, packing lanjutan selesai, kami mulai perjalanan pulang. Tidak berapa lama kemudian hujan turun dengan deras. Kabut dan bunyi petir dar der dor di atas kepala. Serem eh, jas hujan kami kenakan sambil komat-kamit bedo'a mohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Sampai di Pos II, hujan mulai reda, kami istirahat sejenak di sebuah warung yang tutup. Setelah istirahat dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan. Hari mulai gelap, dengan cahaya senter kami masih menyusuri jalan setapak. Hujan kembali turun dengan derasnya, kami masih saja berjalan. Pos I, Pet Bocor sudah kami lewati. Akhirnya kurang lebih jam 18.30 WIB, kami pun sampai di Pos Perijinan. Alhamdulillah. Setelah membuang sampah di tempat yang sudah disediakan, kami lapor dan ambil KTP. Selanjutnya telpon Seno untuk minta jemput.

Sampai di rumah Seno, kami keluarkan barang-barang basah dari dalam carrier untuk menjemur dan mengangin-anginkannya. Cerita cerita soal pendakian, hingga akhirnya tertidur karena kecapekan. 11 Desember 2012, kami kembali mengepack barang-barang bawaan kami untuk bersiap pulang ke Jember. Ba'da Dzuhur, selepas sarapan, kami pamit kepada Seno sekeluarga untuk pulang. Thanks God...!! Thanks Welirang...!! Thanks Seno dan keluarga...!!


Gunung Welirang


share on facebook

Monday, 4 February 2013

Pantai Bandealit


06-07 Oktober 2012, bersama Saboy, Dayat, Arif, dan Hari, saya berangkat refreshing mengunjungi Pantai Bandealit yang terletak di sisi Selatan Kabupaten Jember, tepatnya di Kecamatan Tempurejo. Pantai Bandealit berada dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri, masih satu gugusan dengan Teluk Hijau dan Pantai Sukamade (tempat konservasi penyu) yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Pantai Bandealit menyuguhkan pemandangan alam yang masih alami dengan deburan ombak khas pantai Selatan, selain itu di Pantai Bandealit juga terdapat Goa Jepang yang merupakan pos pengamatan milik tentara Jepang saat jaman penjajahan dulu. Karena berada dalam kawasan Taman Nasional, maka selain dijadikan tempat wisata alam, Pantai Bandealit juga dijadikan tempat konservasi tumbuhan dan hewan yang dilindungi, antara lain ada Bunga Rafflesia, Banteng, Rusa, Elang, dan lain sebagainya.

Selain refreshing, tujuan kami berlima ke Pantai Bandealit adalah untuk memancing ikan. Peralatan berupa 3 alat pancing sudah kami siapkan, pun peralatan kemping, karena kami akan menginap di pantai. Kurang lebih jam 10.00 WIB, kami berlima dengan 3 motor berangkat menuju Pantai Bandealit. Sampai di pasar Ambulu - Jember, kami berhenti sejenak untuk membeli udang yang nantinya akan digunakan sebagai umpan saat memancing. Perjalanan berlanjut, hingga sampai desa terakhir sebelum masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri kami berhenti di sebuah toko untuk berbelanja kebutuhan logistik seperti, mie instan, air mineral, kopi sachet, dan rokok tentunya.
Memasuki kawasan Taman Nasional Betiri perjalanan pun menjadi berat, karena kondisi jalan makadam yang parah. Setelah terpontang panting sekian lama di perjalanan, akhirnya kurang lebih jam 13.00 WIB sampailah kami pos pemukiman penduduk, disitu kami ijin ke bapak penjaga pos untuk masuk ke Pantai Bandealit. Sebelum menuju ke pantai, kami berlima menyempatkan untuk mampir ke rumah pamannya si Saboy yang kebetulan tinggal di pemukiman penduduk dekat dengan Pantai Bandealit. Di situ kami mendapat jamuan makan siang (bagi saya tepatnya sarapan, karena dari pagi belum makan haha.. Alhamdulillah). Setelah mengobrol panjang kali lebar, akhirnya Pak Nasir, paman si Saboy berinisiatif untuk menemani kami berlima selama di Pantai Bandealit, asyik dapat guide gratisan nih. Setelah berkemas, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sisi Timur pantai. Setelah memarkir motor di semak-semak, kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Melewati beberapa wisma penginapan, tembus ke hamparan pasir luas dengan pemandangan pantai yang dihiasi ombak ganas khas pantai Selatan. Suasana pantai tampak sepi, hanya ada beberapa orang pemancing dan 2 orang bule yang sedang bermain pasir. Mungkin karena kondisi akses jalan yang kurang bagus menyebabkan Pantai Bandealit bukan menjadi tempat wisata alam yang banyak didatangi wisatawan. Atau mungkin juga akses jalan yang kurang bagus memang sengaja dibiarkan begitu saja, agar sedikit wisatawan yang datang?? Karena dengan sedikitnya jumlah pengunjung, maka keasrian dan kebersihan pantai akan lebih terjaga... Entahlah.
Masih bersama Pak Nasir, kami terus berjalan menyusuri pasir bibir pantai menuju kumpulan batu karang di sisi Timur untuk memancing. Setelah sampai, kami pun segera mengeluarkan peralatan memancing. Alat pancing yang berjumlah 3 masing-masing digunakan oleh Pak Nasir, Saboy, dan Dayat, sementara Arif dan Hari menjadi penonton. Saya sendiri sibuk mendokumentasikan pemandangan yang ada, dan akhirnya berinisiatif bikin kopi agar kegiatan memancing jadi lebih enjoy. Berbekal nesting dan parafin yang sudah di bawa, enam gelas kopi pun sudah terhidang.

Sampai hari menjelang sore, tak satu ekor ikan pun yang terpancing. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi kegiatan memancing dan bersiap pindah tempat ke sebelah Barat untuk mendirikan tenda. Setelah menemukan tempat yang dirasa pas, motor kami parkir dan tenda pun didirikan. Sementara Pak Nasir pulang dan berjanji nantinya akan kembali lagi untuk menemani kami. Petang menjelang, angin bertiup cukup kencang, sampai tenda yang sudah berdiri sempat roboh beberapa kali hahaha...
Setelah bernarsis-narsis ria bersama panorama sunset pantai, kami memutuskan untuk memasak mi instan plus bikin kopi. Karena persediaan air tinggal sedikit, kami pun nekat memasak menggunakan air payau (edaaan haha). Di saat mulai merebus air payau, datanglah Pak Nasir membawa jala ikan, nasi putih, dan tambahan persediaan air. Sambil menunggu air masak, Pak Nasir mengajak untuk menjala ikan. Saboy, Dayat, dan Arif mengiyakan ajakan Pak Nasir, sementara saya kebagian sebagai koki malam itu, standby di tenda menyiapkan makan malam, lha Hari?? Rupanya Hari giginya sedang ngilu, jadinya nggak tertarik untuk ikut menjala dan memutuskan untuk tetap di tenda. Saya tawarkan balsem untuk mengurut rasa ngilu dan sebutir obat pereda nyeri kepada Hari. Beberapa saat kemudian Hari memutuskan untuk tidur di dalam tenda. Ngik... tinggalah saya sendiri sibuk menyiapkan makan malam dengan menu mie goreng hasil rebusan air payau plus kopi (tetap dengan rebusan air payau). Mie goreng plus kopi payau sudah siap, rombongan penjala ikan pun sudah datang dengan membawa beberapa ikan. Olret, makan malam dimulai. Makan bersama terasa nikmat, walau setiap menelan tenggorokan terasa kering karena rasanya asin sekaleee hahaha... Pak Nasir sempat bilang, lha ngapain pakai air payau, lha wong beberapa ratus meter di belakang kami ada sumur air tawar. Nah...!! kenapa baru bilang sekarang?? Hahaha... Kami semua tertawa.
Setelah makan malam selesai, kami ngobrol santai sambil menikmati hembusan angin laut, kopi payau, dan rokok. Pak Nasir memutuskan untuk melanjutkan menjala ikan. Kami yang muda-muda sudah capek dan ingin santai di tenda. Bakar-bakar ikan, ngobrol-ngobrol dan ndagel mirip orang gila, hingga akhirnya malam semakin larut dan kami tidur.

Pagi menjelang, pemandangan pantai semakin cantik berhias langit biru. Dayat, Saboy, dan Pak Nasir lanjut memancing, sementara saya, Arif, dan Hari duduk di pinggir pantai menikmati keindahan yang ada berteman kopi dan rokok. Beberapa saat kemudian, kami bergantian menjelajahi Pantai Bandealit sampai ke Goa Jepang. Sampai akhirnya, kurang lebih jam 10.00 WIB kami beres-beres peralatan dan sampah untuk persiapan pulang. Sebelum perjalanan pulang, kami mampir terlebih dahulu di rumah Pak Nasir untuk sekedar mandi dan sarapan. Badan sudah bersih, perut sudah kenyang, dengan mengucapkan ribuan terima kasih kepada Pak Nasir, kami pun pamit pulang. Sayonara....!! Terima kasih Pak Nasir, terima kasih Pantai Bandealit atas suguhan 'keperawanan' alamnya.

*) Koplak, draft dari Oktober 2012, baru terposting  Pebruari 2013


Eksotisme Pantai Bandealit


share on facebook

Sunday, 28 October 2012

Pesona Kawah Ijen


Allright... sesuai dengan obrolan dari Taman Nasional Baluran kemarin, setelah beristirahat sejenak di kosan, maka pada hari ini 06 September 2012, saya dan Dayat kembali melanjutkan kegiatan mblakrak menuju Kawah Ijen yang terletak di daerah perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan ketinggian kurang lebih 2.368 Mdpl. Di kawasan Kawah Ijen terdapat tambang belerang yang dikelola dan diangkut oleh masyarakat sekitar secara tradisional.

Kurang lebih jam 12.00 WIB (bangun kesiangan brur... haha) kami berdua baru berangkat menuju Ijen via Bondowoso. Perjalanan di mulai dari kosan Dayat, Situbondo menuju Bondowoso, terus melaju melewati perkebunan Kalisat Jampit, Bondowoso, sampai akhirnya perjalanan menjadi menantang karena jalan yang dilalui rusak parah selama beberapa kilo meter. Jalan yang rusak pada saat itu juga sedang diperbaiki, sehingga kendaraan yang lewat harus antri. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pos Ijen. Begitu sampai kami langsung melihat keadaan sekitar. Ada kantor Pos Ijen yang nantinya digunakan sebagai tempat mengurusi perijinan dan tempat parkir motor, ada beberapa bangunan wisma tempat menginap, dan beberapa warung. Wow... bagi saya yang baru pertama kami ke Ijen, hal ini tentu di luar dugaan saya. Pada awalnya saya berpikir suasananya sepi akan bangunan, apalagi warung. Para wisatawan akan mendirikan tenda dan memasak dengan peralatan camping mereka. Intinya saya berpikir suasanya akan "nyaman" sama seperti saat saya ke Ranu Kumbolo, ternyata eh ternyata di Ijen semuanya sudah tersedia. Penginapan ada, warung pun tersedia. Sementara bagi Dayat ini merupakan kunjungannya yang kedua, Dayat pun tidak kalah kaget melihat perkembangan Ijen sekarang yang begitu pesat jika dibandingkan dengan kunjungannya yang pertama di tahun 2004 (ngik... 8 tahun yang lalu man... kehidupan terus berputar, nggak stagnan...!! haha). Lagi-lagi perkiraan kami meleset, sama seperti melesetnya perkiraan kami saat mengunjungi Taman Nasional Baluran. Logistik yang sejak awal dibeli saat akan mengunjungi Taman Nasional Baluran, lagi-lagi tidak akan dipakai di Ijen. Mau makan, ngopi, bahkan beli camilan pun semua pasti ada di warung. Tenda pun sebenarnya nggak perlu di bawa, karena ada tempat penginapan dan masih banyak yang kosong, akan tetapi atas desakan insting survival yang haus akan petualangan alam dan sedikit untuk mengobati rasa kecewa, maka kami memutuskan untuk tetap mendirikan tenda.

Setelah melihat sekitar lokasi, kami langsung menuju warung yang kemudian kami ketahui warung tersebut bernama "Warung Bu' Im", sesuai dengan nama pemilik warung. Wow... lagi-lagi saya tertegun, warung sederhana tersebut selain menjual makanan dan minuman ternyata juga menjual anek makanan dan minuman ringan komplit dengan merk-merk terkenal. Kami pun berpikir bahwa kelak jika akan mengunjungi Kawah Ijen yang terpenting bukan membawa tenda atau logistik lengkap dengan kompor medan, tetapi yang diperlukan hanyalah uang, ya... uang. Karena di sini apa-apa sudah tersedia haha... Kami langsung pesan 2 porsi nasi goreng dan 2 gelas teh hangat untuk mengisi perut yang sedari pagi masih kosong. Setelah menyantap menu yang terhidang dengan cukup buas, kami pun ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung, Bu' Im. Kami menjelaskan bahwa akan akan menginap dan mendirikan tenda. Bu' Im pun menimpali agar kami mengurusi ijin dulu di pos, untuk mendirikan tenda bisa di mana aja, beliau malah mempersilahkan untuk mendirikan di lahan kosong yang ada di sebelah warungnya, dan jika lapar melanda silahkan segera melapor ke warungnya hehe. Sesaat kemudian kami pun beranjak pamit untuk mengurusi ijin. Sampai di pos, kami disambut seorang pemuda tanggung yang merupakan petugas pos Ijen. Urusan ijin dan biaya administrasi selesai, kami dipersilahkan untuk memasukkan dan memarkir motor ke dalam sebuah ruangan mirip kelas. Selanjutnya kami mulai berjalan-jalan mencari-cari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda yang sekiranya cukup jauh dari tempat penginapan atau pun warung yang ada. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sebelah penginapan paling ujung di dekat jalan setapak menuju Kawah Ijen.

Done...!! tenda telah berdiri, Dayat segera leyeh-leyeh tiduran di dalam tenda, sementara saya leyeh-leyeh di atas matras di luar tenda menikmati senja yang segera datang sambil mendengarkan lagu-lagu MP3 dari hape kesayangan, sesekali saya lihat beberapa orang penambang berjalan memanggul tumpukan belerang, sepertinya baru turun dari Kawah Ijen, disusul kemudian beberapa bule yang juga baru turun dari Kawah Ijen. Tiba-tiba datanglah seorang bule lelaki paruh baya yang tampak sedikit kebingungan sambil membawa 2 botol air mineral kosong. Tak lama kemudian si bule menghampiri saya. Sambil menyapa hello saya persilahkan si bule untuk duduk di atas matras. Kemudian sambil berjabat tangan si bule memperkenalkan diri bernama Michael, saya menjawabnya dengan memperkenalkan diri saya juga. Sesaat setelah saya memperkenalkan nama saya, si bule bertanya, "Wisnu, are you Hindus?", segera saya jawab "Oh no, I'm a moslem". Berbekal bahasa Inggris saya yang ancuran-ancuran, kami pun ngobrol. Dari obrolan tersebut ternyata Michael berencana menginap di shelter bukan di penginapan, dan dirinya sedang kebingungan cari air untuk memasak. Saya tawarkan air mineral yang saya bawa, tapi dia menolak, karena yang dia butuhkan air mentah untuk memasak, bukan air mineral untuk minum. Kemudian saya sarankan untuk bertanya ke pos atau ke warung. Dia pun mengiyakan dan segera pergi ke warung untuk meminta air.

Senja datang, petang menjelang. Hawa dingin mulai terasa, jaket saya kenakan. Satu rombongan wisatawan lokal datang dan segera menuju ke tempat penginapan di seberang tenda kami. Kemudian kami memutuskan untuk beranjak dari tenda menuju ke warungnya Bu' Im untuk ngopi. Dua gelas kopi jahe sudah terhidang di samping piring berisi pisang goreng, Alunan lagu dangdut berirama koplo mengalun entah dari VCD player, radio, atau tape recorder yang disambungkan dengan speaker aktif, hingga suaranya terdengar cukup kencang. Kembali kami pandangi suasana sekitar, terlihat ada 1 warung lagi yang buka, terletak agak jauh dari warung Bu' Im, namun sepi pengunjung. Melihat beberapa foto yang dipajang di warung Bu' Im, sepertinya warung inilah yang menjadi tempat favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Kembali kami ngobrol sama Bu' Im. Lewat obrolan, Bu' Im memberi nasehat kalau mau muncak ke Kawah Ijen dan ingin melihat blue sulfur flames atau blue fire sebaiknya berangkat jam 02.00 WIB dini hari. Blue fire ini adalah fenomena belerang yang terbakar dan akan terlihat memancarkan cahaya/api berwarna biru dan dapat dilihat jika keadaan sekitar masih gelap. Mendengar cerita tersebut, kami berdua pun menjadi semangat untuk menyaksikan fenomena blue sulfur flames atau blue fire. Kemudian kembali kami memesan nasi goreng untuk mengisi perut, agar saat naik menuju Kawah Ijen tidak kelaparan. Setelah itu, kami berpamitan untuk kembali ke tenda. Nah, setelah sampai di tenda karena nggak ada kegiatan, akhirnya kami iseng-iseng cari kayu-kayu kering dan ranting-ranting pohon yang jatuh untuk selanjutnya kami bakar dan membuat api unggun. Dengan penerangan ala kadarnya dari senter yang kami bawa, kami mulai mencari kayu di bawah pohon dan semak-semak di pinggiran jalan setapak. Setelah beberapa kayu terkumpul, kemudian kami taruh di lubang galian sebelah tenda yang digunakan sebagai tempat sampah. Taraaa.... api unggun pun jadi, lumayan untuk menghangatkan badan. Tidak lama kemudian, lampu-lampu mulai dipadamkan (biasanya di daerah terpencil, listrik menyala hanya sampai jam 21.30 WIB). Kami masih asyik bercengkerama mengitari api unggun, hingga kemudian datanglah 2 orang menghampiri kami, 1 diantaranya kami kenal, ya itu adalah pemuda tanggung si petugas pos Ijen, sedang satunya lagi adalah bapak-bapak paruh baya. Mereka berdua bergabung bersama kami mengitari api unggun sambil ngobrol-ngobrol santai perihal pendakian ke Kawah Ijen dan fenomena blue sulfur flames atau blue fire yang ingin kami saksikan.
Kemudian si bapak tadi bilang, "Oiya, sekarang malam Jum'at ya?? Hati-hati mas, di sini sendirian bahaya, nanti ada apa-apa lho. Saya yang punya warung di sana itu mas (sambil menunjuk sebuah warung yang tadi sewaktu kami ngopi terlihat sepi), mending sampeyan pindah aja, kalau cuma dua orang bisa tidur di warung saya kok. Bukannya menakut-nakuti lho, mending diangkut aja tendanya pindah tidur dan makan di warung saya". Kami hanya menjawab "Iya, pak" sambil pringas-pringis nggak jelas. Tidak lama kemudian bapak dan mas-mas penjaga pos tersebut pamit sambil kembali berpesan, "Ati-ati lho mas".
Setelah kedua orang tadi pergi, kami berdua terus cekikikan. Bukannya meremehkan apa yang sudah bapak tadi sampaikan, yang kami tangkap dari omongan bapak tadi bukan soal hal ghoibnya, melainkan soal ajakan persuasif bapak tersebut untuk pindah dan makan di warungnya. Ya, salah satu sebuah cara untuk menarik minat konsumen tetapi dengan cara yang salah. Hehehe... mungkin dipikirnya kami wisatawan ingusan yang baru naik gunung dan bakal ketakutan karena gelap dan sepi. Hehehe... perkenalkan pak, kami ini kumpulan orang slenge'an setengah gila (terutama si Dayat... haha piss bro). Sekali lagi mohon maaf kalau kami nggak pindah tempat, bukannya meremehkan omongan bapak tadi, tapi kami keburu ilfeel dengan cara bapak menarik minat konsumen untuk berkunjung ke warung bapak, terus terang cara-cara seperti itu nggak masuk buat kami. Piss, love, 'n gaul, pak. Setelah api unggun padam, kami memutuskan beristirahat guna memulihkan stamina untuk mendaki ke Kawah Ijen jam 02.00 WIB dini hari nanti.

Krusak-krusuk nggak bisa tidur. Insomnia sepertinya memang nggak mengenal tempat, entah di rumah, di gunung, di pantai, di mana saja selalu dan selalu mengganggu. Adakah yang tau solusinya?? Haha... Terasa mata mulai merem sejenak, eh alarm hp berbunyi. Sudah jam 02.00 WIB, kami segera bangun, packing peralatan dan tenda, karena nggak ada tempat buat nitipin barang-barang, akhirnya ya sudah naik ke Kawah Ijen sambil bawa tas berat. Rokok dan senter dinyalakan, Bismillah siap mendaki. Jalan setapak sepi, gelap, cuma kami berdua, hawa dingin, mata masih mengantuk, udara terasa tipis. Nggak nyangka ternyata jalannya menanjak terus, sangat-sangat sedikit jalanan rata atau menurun (kami biasa menyebutnya bonus), ya perjalanan menuju Kawah Ijen sangat-sangat minim bonus. Saat ngos-ngosan kami istirahat sejenak, dirasa cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan setapak demi setapak, begitu seterusnya. Hingga akhirnya Dayat duduk dan muntah, sepertinya masuk angin. Saya menghampirinya dan memberinya minyak kayu putih. Dayat minta saya untuk melanjutkan perjalanan, nanti jika kondisinya membaik dia akan segera menyusul. Saya bingung, udah setengah perjalanan sayang mau berhenti atau memutuskan kembali, tapi nggak enak juga meninggalkan Dayat sendirian. Lama menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan akan menunggu di tengah perjalanan di atas nanti, pasti saya tunggu, pokoknya ke Kawah Ijen harus bersama-sama. Merasa jarak dengan Dayat cukup jauh, saya pun beristirahat di sebuah pos dan memutuskan untuk menunggunya di situ. Lama menunggu, Dayat akhirnya muncul, kami istirahat sejenak di pos, hingga sampailah rombongan turis datang menyusul perjalanan kami. Salah seorang turis rupanya bisa berbahasa Indonesia dan bertanya apakah perjalanan menuju Kawah Ijen masih jauh?? Saya menjawab tidak tahu, karena ini juga perjalanan perdana saya menuju Kawah Ijen hehehe... Baiklah perjalanan kembali kami lanjutkan, jalan masih tetap menanjak, setelah lama berjalan kami pun sampai di pos penimbangan belerang, di sana rombongan turis yang menyalip kami tadi sudah sibuk melihat, memotret, dan bertanya kepada penambang belerang yang sedang menimbang hasil belerang yang diangkutnya. Dayat bertanya kepada salah satu penambang, masih berapa lama lagi perjalanan ke Kawah Ijen. Pak penambang menjawab sudah dekat, paling kisaran 30 menit lagi. Yah... kami sih sedikit nggak percaya, 30 menit itu kan menurut bapak penambang yang sudah terbiasa wira-wiri ke Kawah Ijen tanpa istirahat dan dengan speed perjalanan cepat, lha bagi kami?? 30 menit bisa saja menjadi 1 jam hahaha... Rombongan turis kembali melanjutkan perjalanan, sedang kami kembali melanjutkan istirahat dan mengatur nafas hehe... Lamaaa berselang, tampak di atas terlihat cahaya lampu senter, wah sepertinya tombongan turis tadi sudah jauh berada di atas, kami pun semangat untuk melanjutkan perjalanan.

 
Jalan menanjak setapak demi setapak kami lalui, finally kurang lebih jam 05.00 WIB setelah melalui jalan berbelok tampaklah sebuah kawah mengeluarkan asap, yap Alhamdulillah sampai juga kami di Kawah Ijen. Di sana sudah ada rombongan turis tadi yang duduk berkumpul sambil menghisap rokoknya. Kami langsung meletakkan beban berat tas yang sejak tadi berada di pundak, menggelar matras dan duduk sambil ikut menikmati rokok. Kami urungkan niat melihat blue sulfur flames atau blue fire, karena asap belerang sedang terbakar hingga asapnya berwarna kuning pekat dan tersebar kemana-mana, tepatnya sih lebih banyak mengarah ke kami dengan aromanya yang khas. Masker kami kenakan, saya pun mulai berkeliling melihat-lihat keadaan sekitar yang masih gelap dan dingin. Dayat mengeluarkan sarung dari dalam tasnya dan memakainya sebagai selimut. Nggak lama kemudian Dayat mengajak turun, waduh... sepertinya kondisinya belum membaik. Saya berikan sedikit motivasi, tanggung, eman kalau turun sekarang, dokumentasi foto belum diambil karena pemandangan belum jelas akibat suasana yang gelap, sebentar lagi matahari muncul pasti nggak akan dingin lagi, dan pemandangan akan tampak lebih indah... sabar Yat, sabar... 
Beberapa rombongan turis yang lain mulai datang, pun demikian dengan para penambang belerang. Kemudian datanglah seorang bapak yang ternyata merupakan petugas Kawah Ijen yang mengurusi soal penambangan, kami pun ngobrol-ngobrol perihal blue sulfur flames atau blue fire dan asap belerang yang terbakar dan tersebar kemana-kemana, katanya sih asap belerang kalau nggak terbakar akan berwarna putih bukan kuning dan arah terbangnya biasanya ke arah barat berseberangan dengan jalan pendaki, nah jika keadaan seperti ini, memungkinkan kita untuk turun ke bawah melihat fenomena blue sulfur flames atau blue fire. Kemudian bapak tadi undur diri untuk melakukan aktivitasnya memantau tambang belerang di bawah, sementara tampak dari ufuk timur matahari mulai menampakkan cahayanya. Saya kembali melihat keadaan sekitar untuk mengabadikan pesona alam yang ada.

Matahari mulai tampak lebih jelas, suasana mulai sedikit hangat. Eh... ketemu lagi dengan Mister Michael haha... kembali saya ngobrol dengan bahasa Inggris yang pathing pecothot, untungnya Michael bisa memakluminya haha... dia bilang kalau di Switzerland, negara asalnya sana ada beberapa gunung, tapi nggak seindah di Indonesia. Pemandangan pagi ini memang indah. Kawah hijau dengan kepulan asap, pegunungan dan perbukitan tampak kokoh berdiri, pepohonan hijau terhampar, Subhanallah. Kami pun menyempatkan untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan, sebelum akhirnya saya pamit memutuskan untuk jalan-jalan melihat keadaan sekitar yang mulai tampak indah karena suasanya sudah terang dan cerah, yeah it's time untuk bernarsis-narsis ria hahaha. Dayat yang tadinya kurang bersemangat, kini tampak antusias. Ah... apa jadinya kalau tadi begitu sampai, saya mengikuti saran Dayat untuk turun kembali haha... Kami juga turun ke bawah Kawah untuk melihat kegiatan para penambang, di sana kami kemudian bertemu dengan beberapa rombongan turis dengan guide orang Indonesia, ada Pak Wayan dari Bali (eh... Pak Wayan apa Pak Made ya?? lupa haha) yang membawa rombongan turis asal Perancis, ada mas-mas dari Banyuwangi yang menjadi  guide freelance dan membawa rombongan turis dari Inggris. Kami pun ngobrol-ngobrol dengan guide-guide tadi. Indahnya kebersamaan di pagi hari. Lumayan dapat jatah roti dan kue coklat dari Pak Wayan, thanks pak.
Setelah dirasa cukup, kami pun pamit undur diri untuk turun pulang ke bawah. Suasana Kawah Ijen mulai ramai, didominasi oleh turis mancanegara, banyak yang cakep brur ckckckck... ada yang mirip Paris Hilton juga bwakakakak... (obrolan tuna asmara nggak jauh-jauh dari hal ini), apalagi turis dari Singapura, wow... (drooling). Baiklah saatnya turun, setelah packing matras dan sebagainya, kami pun mulai turun kembali pulang ke bawah. Dengan suasana hari yang cerah dan jalan menurun, perjalanan pulang terasa lebih ringan jika dibandingkan dengan perjalanan saat naik. 

Lama berselang akhirnya kami sampai juga di bawah. Tujuan kami selanjutnya adalah warung Bu' Im. Welah dalah... ternyata warungnya hampir penuh, banyak wisatawan yang sudah standby di warungnya Bu' Im. Masih ada tempat, kami pun duduk dan segera memesan segelas kopi. Kopi terhidang, datang pula 2 orang supir travel, kami pun bercengkerama bersama mereka, cerita suka duka menjalani aktivitas di bidang travelling dan sebagainya. Dari cerita 2 orang tersebut, muncul ketertarikan diri untuk bekerja di bidang travelling, sepertinya enak ya jalan-jalan terus hahaha.... Sudah siang, kami pun pamit untuk kembali pulang ke Jember. Ambil motor di parkiran, kurang lebih jam 12.00 WIB dengan mengucap Bismillah, perjalanan panjang menuju ke Jember kembali akan kami jalani. Sampai di perempatan Perkebunan Kalisat, Jampit (kalau nggak salah?!) kami berbelok ke arah kanan, inginnya sih mencari lokasi Pemandian Air Panas. Nah, Dayat dulu jaman kuliah sewaktu magang di Perkebunan Jampit, katanya pernah ke Pemandian Air Panas. Masalahnya sekarang dia lupa lokasi tepatnya di mana. Jadi bisa dibilang perjalanan berbelok arah ke kanan tadi adalah suatu hal yang ngawur alias coba-coba. Bingung karena arah yang dilalui ternyata menuju ke pemukiman penduduk, akhirnya kami tanya ke seseorang yang kebetulan kami temui di pinggir jalan. Saya turun dari motor dan bertanya arah menuju Pemandian Air Panas. Orang tadi hanya geleng-geleng dan bergumam nggak jelas. Setelah saya perhatikan lebih lanjut, bisa saya pastikan orang tersebut adalah orang gila. Busyeeet... setelah saya tinggal, orang tadi masih saja bergumam nggak jelas alias ngomong sendiri hahaha... Yaweslah akhirnya kami putuskan untuk pulang ke Jember saja, nggak jadi mencari lokasi Pemandian Air Panas. Ngeeeng.... perjalanan panjang kembali dilalui, hingga akhirnya sampai di Bondowoso kami istirahat sejenak di gubuk peristirahatan yang ada di pinggir jalan, mendinginkan mesin motor plus mendinginkan pantat yang terasa sangat panas. Setelah cukup istirahat, perjalanan kami lanjutkan, hingga akhirnya kurang lebih jam 16.00 WIB, saya pun sampai di rumah. Alhamdulillah....
Satu hal yang menjadi catatan saya: Untuk ke Kawah Ijen nggak perlu bawa peralatan camping lengkap, cukup bawa uang yang cukup, karena segala sesuatunya sudah tersedia di sana. Camkan itu wahai kisanak...!!

*Busyeet... petualangan hanya dua hari satu malam, kenapa ceritanya bisa sepanjang ini ya??!!

Pesona Kawah Ijen


share on facebook

Monday, 22 October 2012

Taman Nasional Baluran


05 September 2012 saya berkesempatan untuk mblakrak ke Taman Nasional Baluran yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Taman Nasional Baluran ini diisi oleh beberapa tipe vegetasi, antara lain hutan musim, hutan mangrove, dan sabana serta dihuni oleh beberapa jenis satwa dilindungi, antara lain Banteng (yang kemudian menjadi maskot Taman Nasional Baluran), Macan Tutul, Rusa, Kancil, Monyet, Ayam Hutan (Bekisar), Burung Merak dan aneka macam burung lainnya.

Saya berangkat bersama Dayat, teman saya yang kebetulan kerja dan kos di kota Situbondo. Kami berdua berangkat boncengan naik motor. Sekitar jam 10.00 WIB, kami mulai perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Peralatan yang dibawa antara lain, tas carrier berisi pakaian ganti (karena kami berencana untuk menginap), tenda dome, matras, jaket, senter, dan perlengkapan memancing. Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk membeli bekal logistik (mie instan dan air). Kemudian perjalanan kami lanjutkan, dan finally kurang lebih jam 13.00 WIB kami pun sampai di Taman Nasional Baluran.

Suasana di Taman Nasional Baluran cukup sepi waktu itu, mungkin karena kami ke sini saat hari kerja, bukan saat liburan (lho, kalau hari kerja kenapa Dayat nggak kerja?? pssstt... bolos, brur. dilarang meniru adegan berbahaya ini, jika tetap memaksa ingin mencoba, do it at own risk). Kemudian kami masuk dan melapor di pos informasi untuk mengurusi perijinan. Sampai di pos, ternyata petugas yang mengurusi tiket masih makan siang, di sana kami ditemui oleh petugas jaga yang lain. Sambil mengamati keadaan sekitar, kami pun ngobrol-ngobrol dengan bapat petugas jaga tadi. Wah ternyata keadaan sekitar jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Berdasarkan informasi dari bapak petugas jaga tadi, ternyata di Taman Nasional Baluran camping ground nya berada hanya beberapa meter dari pos informasi. Sementara di padang savana tidak diijinkan untuk mendirikan tenda, sebagai gantinya di sana sudah disediakan wisma oleh pihak Taman Nasional Baluran untuk menginap. Daann... yang lebih mengecewakan lagi, masih berdasarkan informasi dari bapak petugas jaga tadi, untuk saat ini sampai tanggal 21 September 2012, pengunjung kawasan Taman Nasional Baluran tidak diijinkan untuk menginap (baik mendirikan tenda, ataupun menginap di wisma) dikarenakan Taman Nasional Baluran masih kedatangan Tim Inspeksi dari Jakarta.
Melihat peralatan pancing yang kami bawa, bapak petugas jaga tadi juga bilang bahwa di pantai Bama (yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Baluran) pengunjung dilarang untuk memancing ikan yang ada di pantai Bama, karena itu termasuk kawasan konservasi. Waduh... kami bawa pancing sebenarnya kan juga dapat informasi dari internet kalau di pantai Bama boleh memancing, ternyata... informasi yang menyesatkan. Kamipun meminta maaf dan berjanji untuk tidak memancing. Sumpeee deee...

Setelah bapak petugas yang mengurusi tiket datang, kami langsung ijin dan membayar tiket masuk untuk 2 orang plus motor. Yah... biarlah walau sedikit kecewa dengan kondisi di lapangan, kami tetap masuk, itung-itung untuk menghilangkan rasa penasaran akan pemandangan alam savana Taman Nasional Baluran yang konon katanya mendapat julukan "Little Africa in Java".
Dari pos informasi menuju Bekol (padang savana) dengan menunggang motor diperlukan waktu kurang lebih setengah jam dengan menyusuri jalan makadam. Saat melintasi jalan menuju Bekol, beberapa kali kami menemukan titik api alias pohon-pohon yang terbakar, entah karena pengaruh kemarau atau sebab lain. Kami juga sempat berpapasan dengan petugas dari Taman Nasional Baluran yang berusaha memadamkan pohon-pohon yang terbakar. Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Bekol. Wuaaw... pemandangannya gersang, panas, seolah-olah berada di Afrika (lebay). Setelah mengambil beberapa view foto, perjalanan segera kami lanjutkan ke Bama (pantai).

Begitu masuk ke area pantai Bama kata yang terucap pertama kali adalah "Sepi...!!" Yah namanya juga bukan musim liburan. Yang ada di area pantai hanya kumpulan monyet, dan 1 keluarga kecil yang sedang berlibur dan tampak asyik bermain pasir bersama anaknya yang masih kecil. Kami pun kemudian istirahat sejenak menikmati semilir angin pantai. Kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan di sekitar pantai yang memiliki pasir putih, pemandangan laut yang biru dengan ombak yang kecil. Setelah puas mengambil dokumentasi alias berfoto-foto ria, kembali kami istirahat menikmati pemandangan pantai yang menurut kami cukup indah dan terhitung masih bersih (jika dibandingkan dengan pantai lain yang sudah terkenal sebagai tujuan wisata). Kurang lebih jam 15.00 WIB, kami pun beranjak dari pantai Bama dan berencana kembali ke savana Bekol, untuk mengamati pemandangan Bekol saat senja.

Savana Bekol saat senja sungguh indah. Beberapa kumpulan rusa mulai menampakkan diri untuk minum dan bermanja di bawah senja matahari. Sementara padang savana bergoyang-goyang tertiup angin yang cukup kencang. Freedom... bebas lepas... itulah kesan yang saya tangkap. Kami juga sempat naik ke beberapa pos pantau yang ada di Bekol, menikmati kencangnya angin yang berhembus. Setelah puas menikmati senja di Bekol, kamipun langsung bersiap untuk kembali ke pos informasi, dan kembali ke kosannya Dayat.
Di saat perjalanan pulang, kami sempat mengobrol perihal nasib logistik kami (mie instan) yang sudah terlanjur kami beli, eman terlanjur beli logistik ternyata nggak jadi menginap. Akhirnya kami berdua memutuskan besok untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen, agar kiranya logistik yang sudah terbeli tidak sia-sia dan bisa digunakan (halah, alasan yang terlalu mengada-ada). Yaaa... kami sepakat untuk kembali ke kosan untuk beristirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen.

It's called "Little Africa in Java"

share on facebook