"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Sunday, 28 October 2012

Pesona Kawah Ijen


Allright... sesuai dengan obrolan dari Taman Nasional Baluran kemarin, setelah beristirahat sejenak di kosan, maka pada hari ini 06 September 2012, saya dan Dayat kembali melanjutkan kegiatan mblakrak menuju Kawah Ijen yang terletak di daerah perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan ketinggian kurang lebih 2.368 Mdpl. Di kawasan Kawah Ijen terdapat tambang belerang yang dikelola dan diangkut oleh masyarakat sekitar secara tradisional.

Kurang lebih jam 12.00 WIB (bangun kesiangan brur... haha) kami berdua baru berangkat menuju Ijen via Bondowoso. Perjalanan di mulai dari kosan Dayat, Situbondo menuju Bondowoso, terus melaju melewati perkebunan Kalisat Jampit, Bondowoso, sampai akhirnya perjalanan menjadi menantang karena jalan yang dilalui rusak parah selama beberapa kilo meter. Jalan yang rusak pada saat itu juga sedang diperbaiki, sehingga kendaraan yang lewat harus antri. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pos Ijen. Begitu sampai kami langsung melihat keadaan sekitar. Ada kantor Pos Ijen yang nantinya digunakan sebagai tempat mengurusi perijinan dan tempat parkir motor, ada beberapa bangunan wisma tempat menginap, dan beberapa warung. Wow... bagi saya yang baru pertama kami ke Ijen, hal ini tentu di luar dugaan saya. Pada awalnya saya berpikir suasananya sepi akan bangunan, apalagi warung. Para wisatawan akan mendirikan tenda dan memasak dengan peralatan camping mereka. Intinya saya berpikir suasanya akan "nyaman" sama seperti saat saya ke Ranu Kumbolo, ternyata eh ternyata di Ijen semuanya sudah tersedia. Penginapan ada, warung pun tersedia. Sementara bagi Dayat ini merupakan kunjungannya yang kedua, Dayat pun tidak kalah kaget melihat perkembangan Ijen sekarang yang begitu pesat jika dibandingkan dengan kunjungannya yang pertama di tahun 2004 (ngik... 8 tahun yang lalu man... kehidupan terus berputar, nggak stagnan...!! haha). Lagi-lagi perkiraan kami meleset, sama seperti melesetnya perkiraan kami saat mengunjungi Taman Nasional Baluran. Logistik yang sejak awal dibeli saat akan mengunjungi Taman Nasional Baluran, lagi-lagi tidak akan dipakai di Ijen. Mau makan, ngopi, bahkan beli camilan pun semua pasti ada di warung. Tenda pun sebenarnya nggak perlu di bawa, karena ada tempat penginapan dan masih banyak yang kosong, akan tetapi atas desakan insting survival yang haus akan petualangan alam dan sedikit untuk mengobati rasa kecewa, maka kami memutuskan untuk tetap mendirikan tenda.

Setelah melihat sekitar lokasi, kami langsung menuju warung yang kemudian kami ketahui warung tersebut bernama "Warung Bu' Im", sesuai dengan nama pemilik warung. Wow... lagi-lagi saya tertegun, warung sederhana tersebut selain menjual makanan dan minuman ternyata juga menjual anek makanan dan minuman ringan komplit dengan merk-merk terkenal. Kami pun berpikir bahwa kelak jika akan mengunjungi Kawah Ijen yang terpenting bukan membawa tenda atau logistik lengkap dengan kompor medan, tetapi yang diperlukan hanyalah uang, ya... uang. Karena di sini apa-apa sudah tersedia haha... Kami langsung pesan 2 porsi nasi goreng dan 2 gelas teh hangat untuk mengisi perut yang sedari pagi masih kosong. Setelah menyantap menu yang terhidang dengan cukup buas, kami pun ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung, Bu' Im. Kami menjelaskan bahwa akan akan menginap dan mendirikan tenda. Bu' Im pun menimpali agar kami mengurusi ijin dulu di pos, untuk mendirikan tenda bisa di mana aja, beliau malah mempersilahkan untuk mendirikan di lahan kosong yang ada di sebelah warungnya, dan jika lapar melanda silahkan segera melapor ke warungnya hehe. Sesaat kemudian kami pun beranjak pamit untuk mengurusi ijin. Sampai di pos, kami disambut seorang pemuda tanggung yang merupakan petugas pos Ijen. Urusan ijin dan biaya administrasi selesai, kami dipersilahkan untuk memasukkan dan memarkir motor ke dalam sebuah ruangan mirip kelas. Selanjutnya kami mulai berjalan-jalan mencari-cari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda yang sekiranya cukup jauh dari tempat penginapan atau pun warung yang ada. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sebelah penginapan paling ujung di dekat jalan setapak menuju Kawah Ijen.

Done...!! tenda telah berdiri, Dayat segera leyeh-leyeh tiduran di dalam tenda, sementara saya leyeh-leyeh di atas matras di luar tenda menikmati senja yang segera datang sambil mendengarkan lagu-lagu MP3 dari hape kesayangan, sesekali saya lihat beberapa orang penambang berjalan memanggul tumpukan belerang, sepertinya baru turun dari Kawah Ijen, disusul kemudian beberapa bule yang juga baru turun dari Kawah Ijen. Tiba-tiba datanglah seorang bule lelaki paruh baya yang tampak sedikit kebingungan sambil membawa 2 botol air mineral kosong. Tak lama kemudian si bule menghampiri saya. Sambil menyapa hello saya persilahkan si bule untuk duduk di atas matras. Kemudian sambil berjabat tangan si bule memperkenalkan diri bernama Michael, saya menjawabnya dengan memperkenalkan diri saya juga. Sesaat setelah saya memperkenalkan nama saya, si bule bertanya, "Wisnu, are you Hindus?", segera saya jawab "Oh no, I'm a moslem". Berbekal bahasa Inggris saya yang ancuran-ancuran, kami pun ngobrol. Dari obrolan tersebut ternyata Michael berencana menginap di shelter bukan di penginapan, dan dirinya sedang kebingungan cari air untuk memasak. Saya tawarkan air mineral yang saya bawa, tapi dia menolak, karena yang dia butuhkan air mentah untuk memasak, bukan air mineral untuk minum. Kemudian saya sarankan untuk bertanya ke pos atau ke warung. Dia pun mengiyakan dan segera pergi ke warung untuk meminta air.

Senja datang, petang menjelang. Hawa dingin mulai terasa, jaket saya kenakan. Satu rombongan wisatawan lokal datang dan segera menuju ke tempat penginapan di seberang tenda kami. Kemudian kami memutuskan untuk beranjak dari tenda menuju ke warungnya Bu' Im untuk ngopi. Dua gelas kopi jahe sudah terhidang di samping piring berisi pisang goreng, Alunan lagu dangdut berirama koplo mengalun entah dari VCD player, radio, atau tape recorder yang disambungkan dengan speaker aktif, hingga suaranya terdengar cukup kencang. Kembali kami pandangi suasana sekitar, terlihat ada 1 warung lagi yang buka, terletak agak jauh dari warung Bu' Im, namun sepi pengunjung. Melihat beberapa foto yang dipajang di warung Bu' Im, sepertinya warung inilah yang menjadi tempat favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Kembali kami ngobrol sama Bu' Im. Lewat obrolan, Bu' Im memberi nasehat kalau mau muncak ke Kawah Ijen dan ingin melihat blue sulfur flames atau blue fire sebaiknya berangkat jam 02.00 WIB dini hari. Blue fire ini adalah fenomena belerang yang terbakar dan akan terlihat memancarkan cahaya/api berwarna biru dan dapat dilihat jika keadaan sekitar masih gelap. Mendengar cerita tersebut, kami berdua pun menjadi semangat untuk menyaksikan fenomena blue sulfur flames atau blue fire. Kemudian kembali kami memesan nasi goreng untuk mengisi perut, agar saat naik menuju Kawah Ijen tidak kelaparan. Setelah itu, kami berpamitan untuk kembali ke tenda. Nah, setelah sampai di tenda karena nggak ada kegiatan, akhirnya kami iseng-iseng cari kayu-kayu kering dan ranting-ranting pohon yang jatuh untuk selanjutnya kami bakar dan membuat api unggun. Dengan penerangan ala kadarnya dari senter yang kami bawa, kami mulai mencari kayu di bawah pohon dan semak-semak di pinggiran jalan setapak. Setelah beberapa kayu terkumpul, kemudian kami taruh di lubang galian sebelah tenda yang digunakan sebagai tempat sampah. Taraaa.... api unggun pun jadi, lumayan untuk menghangatkan badan. Tidak lama kemudian, lampu-lampu mulai dipadamkan (biasanya di daerah terpencil, listrik menyala hanya sampai jam 21.30 WIB). Kami masih asyik bercengkerama mengitari api unggun, hingga kemudian datanglah 2 orang menghampiri kami, 1 diantaranya kami kenal, ya itu adalah pemuda tanggung si petugas pos Ijen, sedang satunya lagi adalah bapak-bapak paruh baya. Mereka berdua bergabung bersama kami mengitari api unggun sambil ngobrol-ngobrol santai perihal pendakian ke Kawah Ijen dan fenomena blue sulfur flames atau blue fire yang ingin kami saksikan.
Kemudian si bapak tadi bilang, "Oiya, sekarang malam Jum'at ya?? Hati-hati mas, di sini sendirian bahaya, nanti ada apa-apa lho. Saya yang punya warung di sana itu mas (sambil menunjuk sebuah warung yang tadi sewaktu kami ngopi terlihat sepi), mending sampeyan pindah aja, kalau cuma dua orang bisa tidur di warung saya kok. Bukannya menakut-nakuti lho, mending diangkut aja tendanya pindah tidur dan makan di warung saya". Kami hanya menjawab "Iya, pak" sambil pringas-pringis nggak jelas. Tidak lama kemudian bapak dan mas-mas penjaga pos tersebut pamit sambil kembali berpesan, "Ati-ati lho mas".
Setelah kedua orang tadi pergi, kami berdua terus cekikikan. Bukannya meremehkan apa yang sudah bapak tadi sampaikan, yang kami tangkap dari omongan bapak tadi bukan soal hal ghoibnya, melainkan soal ajakan persuasif bapak tersebut untuk pindah dan makan di warungnya. Ya, salah satu sebuah cara untuk menarik minat konsumen tetapi dengan cara yang salah. Hehehe... mungkin dipikirnya kami wisatawan ingusan yang baru naik gunung dan bakal ketakutan karena gelap dan sepi. Hehehe... perkenalkan pak, kami ini kumpulan orang slenge'an setengah gila (terutama si Dayat... haha piss bro). Sekali lagi mohon maaf kalau kami nggak pindah tempat, bukannya meremehkan omongan bapak tadi, tapi kami keburu ilfeel dengan cara bapak menarik minat konsumen untuk berkunjung ke warung bapak, terus terang cara-cara seperti itu nggak masuk buat kami. Piss, love, 'n gaul, pak. Setelah api unggun padam, kami memutuskan beristirahat guna memulihkan stamina untuk mendaki ke Kawah Ijen jam 02.00 WIB dini hari nanti.

Krusak-krusuk nggak bisa tidur. Insomnia sepertinya memang nggak mengenal tempat, entah di rumah, di gunung, di pantai, di mana saja selalu dan selalu mengganggu. Adakah yang tau solusinya?? Haha... Terasa mata mulai merem sejenak, eh alarm hp berbunyi. Sudah jam 02.00 WIB, kami segera bangun, packing peralatan dan tenda, karena nggak ada tempat buat nitipin barang-barang, akhirnya ya sudah naik ke Kawah Ijen sambil bawa tas berat. Rokok dan senter dinyalakan, Bismillah siap mendaki. Jalan setapak sepi, gelap, cuma kami berdua, hawa dingin, mata masih mengantuk, udara terasa tipis. Nggak nyangka ternyata jalannya menanjak terus, sangat-sangat sedikit jalanan rata atau menurun (kami biasa menyebutnya bonus), ya perjalanan menuju Kawah Ijen sangat-sangat minim bonus. Saat ngos-ngosan kami istirahat sejenak, dirasa cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan setapak demi setapak, begitu seterusnya. Hingga akhirnya Dayat duduk dan muntah, sepertinya masuk angin. Saya menghampirinya dan memberinya minyak kayu putih. Dayat minta saya untuk melanjutkan perjalanan, nanti jika kondisinya membaik dia akan segera menyusul. Saya bingung, udah setengah perjalanan sayang mau berhenti atau memutuskan kembali, tapi nggak enak juga meninggalkan Dayat sendirian. Lama menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan akan menunggu di tengah perjalanan di atas nanti, pasti saya tunggu, pokoknya ke Kawah Ijen harus bersama-sama. Merasa jarak dengan Dayat cukup jauh, saya pun beristirahat di sebuah pos dan memutuskan untuk menunggunya di situ. Lama menunggu, Dayat akhirnya muncul, kami istirahat sejenak di pos, hingga sampailah rombongan turis datang menyusul perjalanan kami. Salah seorang turis rupanya bisa berbahasa Indonesia dan bertanya apakah perjalanan menuju Kawah Ijen masih jauh?? Saya menjawab tidak tahu, karena ini juga perjalanan perdana saya menuju Kawah Ijen hehehe... Baiklah perjalanan kembali kami lanjutkan, jalan masih tetap menanjak, setelah lama berjalan kami pun sampai di pos penimbangan belerang, di sana rombongan turis yang menyalip kami tadi sudah sibuk melihat, memotret, dan bertanya kepada penambang belerang yang sedang menimbang hasil belerang yang diangkutnya. Dayat bertanya kepada salah satu penambang, masih berapa lama lagi perjalanan ke Kawah Ijen. Pak penambang menjawab sudah dekat, paling kisaran 30 menit lagi. Yah... kami sih sedikit nggak percaya, 30 menit itu kan menurut bapak penambang yang sudah terbiasa wira-wiri ke Kawah Ijen tanpa istirahat dan dengan speed perjalanan cepat, lha bagi kami?? 30 menit bisa saja menjadi 1 jam hahaha... Rombongan turis kembali melanjutkan perjalanan, sedang kami kembali melanjutkan istirahat dan mengatur nafas hehe... Lamaaa berselang, tampak di atas terlihat cahaya lampu senter, wah sepertinya tombongan turis tadi sudah jauh berada di atas, kami pun semangat untuk melanjutkan perjalanan.

 
Jalan menanjak setapak demi setapak kami lalui, finally kurang lebih jam 05.00 WIB setelah melalui jalan berbelok tampaklah sebuah kawah mengeluarkan asap, yap Alhamdulillah sampai juga kami di Kawah Ijen. Di sana sudah ada rombongan turis tadi yang duduk berkumpul sambil menghisap rokoknya. Kami langsung meletakkan beban berat tas yang sejak tadi berada di pundak, menggelar matras dan duduk sambil ikut menikmati rokok. Kami urungkan niat melihat blue sulfur flames atau blue fire, karena asap belerang sedang terbakar hingga asapnya berwarna kuning pekat dan tersebar kemana-mana, tepatnya sih lebih banyak mengarah ke kami dengan aromanya yang khas. Masker kami kenakan, saya pun mulai berkeliling melihat-lihat keadaan sekitar yang masih gelap dan dingin. Dayat mengeluarkan sarung dari dalam tasnya dan memakainya sebagai selimut. Nggak lama kemudian Dayat mengajak turun, waduh... sepertinya kondisinya belum membaik. Saya berikan sedikit motivasi, tanggung, eman kalau turun sekarang, dokumentasi foto belum diambil karena pemandangan belum jelas akibat suasana yang gelap, sebentar lagi matahari muncul pasti nggak akan dingin lagi, dan pemandangan akan tampak lebih indah... sabar Yat, sabar... 
Beberapa rombongan turis yang lain mulai datang, pun demikian dengan para penambang belerang. Kemudian datanglah seorang bapak yang ternyata merupakan petugas Kawah Ijen yang mengurusi soal penambangan, kami pun ngobrol-ngobrol perihal blue sulfur flames atau blue fire dan asap belerang yang terbakar dan tersebar kemana-kemana, katanya sih asap belerang kalau nggak terbakar akan berwarna putih bukan kuning dan arah terbangnya biasanya ke arah barat berseberangan dengan jalan pendaki, nah jika keadaan seperti ini, memungkinkan kita untuk turun ke bawah melihat fenomena blue sulfur flames atau blue fire. Kemudian bapak tadi undur diri untuk melakukan aktivitasnya memantau tambang belerang di bawah, sementara tampak dari ufuk timur matahari mulai menampakkan cahayanya. Saya kembali melihat keadaan sekitar untuk mengabadikan pesona alam yang ada.

Matahari mulai tampak lebih jelas, suasana mulai sedikit hangat. Eh... ketemu lagi dengan Mister Michael haha... kembali saya ngobrol dengan bahasa Inggris yang pathing pecothot, untungnya Michael bisa memakluminya haha... dia bilang kalau di Switzerland, negara asalnya sana ada beberapa gunung, tapi nggak seindah di Indonesia. Pemandangan pagi ini memang indah. Kawah hijau dengan kepulan asap, pegunungan dan perbukitan tampak kokoh berdiri, pepohonan hijau terhampar, Subhanallah. Kami pun menyempatkan untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan, sebelum akhirnya saya pamit memutuskan untuk jalan-jalan melihat keadaan sekitar yang mulai tampak indah karena suasanya sudah terang dan cerah, yeah it's time untuk bernarsis-narsis ria hahaha. Dayat yang tadinya kurang bersemangat, kini tampak antusias. Ah... apa jadinya kalau tadi begitu sampai, saya mengikuti saran Dayat untuk turun kembali haha... Kami juga turun ke bawah Kawah untuk melihat kegiatan para penambang, di sana kami kemudian bertemu dengan beberapa rombongan turis dengan guide orang Indonesia, ada Pak Wayan dari Bali (eh... Pak Wayan apa Pak Made ya?? lupa haha) yang membawa rombongan turis asal Perancis, ada mas-mas dari Banyuwangi yang menjadi  guide freelance dan membawa rombongan turis dari Inggris. Kami pun ngobrol-ngobrol dengan guide-guide tadi. Indahnya kebersamaan di pagi hari. Lumayan dapat jatah roti dan kue coklat dari Pak Wayan, thanks pak.
Setelah dirasa cukup, kami pun pamit undur diri untuk turun pulang ke bawah. Suasana Kawah Ijen mulai ramai, didominasi oleh turis mancanegara, banyak yang cakep brur ckckckck... ada yang mirip Paris Hilton juga bwakakakak... (obrolan tuna asmara nggak jauh-jauh dari hal ini), apalagi turis dari Singapura, wow... (drooling). Baiklah saatnya turun, setelah packing matras dan sebagainya, kami pun mulai turun kembali pulang ke bawah. Dengan suasana hari yang cerah dan jalan menurun, perjalanan pulang terasa lebih ringan jika dibandingkan dengan perjalanan saat naik. 

Lama berselang akhirnya kami sampai juga di bawah. Tujuan kami selanjutnya adalah warung Bu' Im. Welah dalah... ternyata warungnya hampir penuh, banyak wisatawan yang sudah standby di warungnya Bu' Im. Masih ada tempat, kami pun duduk dan segera memesan segelas kopi. Kopi terhidang, datang pula 2 orang supir travel, kami pun bercengkerama bersama mereka, cerita suka duka menjalani aktivitas di bidang travelling dan sebagainya. Dari cerita 2 orang tersebut, muncul ketertarikan diri untuk bekerja di bidang travelling, sepertinya enak ya jalan-jalan terus hahaha.... Sudah siang, kami pun pamit untuk kembali pulang ke Jember. Ambil motor di parkiran, kurang lebih jam 12.00 WIB dengan mengucap Bismillah, perjalanan panjang menuju ke Jember kembali akan kami jalani. Sampai di perempatan Perkebunan Kalisat, Jampit (kalau nggak salah?!) kami berbelok ke arah kanan, inginnya sih mencari lokasi Pemandian Air Panas. Nah, Dayat dulu jaman kuliah sewaktu magang di Perkebunan Jampit, katanya pernah ke Pemandian Air Panas. Masalahnya sekarang dia lupa lokasi tepatnya di mana. Jadi bisa dibilang perjalanan berbelok arah ke kanan tadi adalah suatu hal yang ngawur alias coba-coba. Bingung karena arah yang dilalui ternyata menuju ke pemukiman penduduk, akhirnya kami tanya ke seseorang yang kebetulan kami temui di pinggir jalan. Saya turun dari motor dan bertanya arah menuju Pemandian Air Panas. Orang tadi hanya geleng-geleng dan bergumam nggak jelas. Setelah saya perhatikan lebih lanjut, bisa saya pastikan orang tersebut adalah orang gila. Busyeeet... setelah saya tinggal, orang tadi masih saja bergumam nggak jelas alias ngomong sendiri hahaha... Yaweslah akhirnya kami putuskan untuk pulang ke Jember saja, nggak jadi mencari lokasi Pemandian Air Panas. Ngeeeng.... perjalanan panjang kembali dilalui, hingga akhirnya sampai di Bondowoso kami istirahat sejenak di gubuk peristirahatan yang ada di pinggir jalan, mendinginkan mesin motor plus mendinginkan pantat yang terasa sangat panas. Setelah cukup istirahat, perjalanan kami lanjutkan, hingga akhirnya kurang lebih jam 16.00 WIB, saya pun sampai di rumah. Alhamdulillah....
Satu hal yang menjadi catatan saya: Untuk ke Kawah Ijen nggak perlu bawa peralatan camping lengkap, cukup bawa uang yang cukup, karena segala sesuatunya sudah tersedia di sana. Camkan itu wahai kisanak...!!

*Busyeet... petualangan hanya dua hari satu malam, kenapa ceritanya bisa sepanjang ini ya??!!

Pesona Kawah Ijen


share on facebook

Monday, 22 October 2012

Taman Nasional Baluran


05 September 2012 saya berkesempatan untuk mblakrak ke Taman Nasional Baluran yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Taman Nasional Baluran ini diisi oleh beberapa tipe vegetasi, antara lain hutan musim, hutan mangrove, dan sabana serta dihuni oleh beberapa jenis satwa dilindungi, antara lain Banteng (yang kemudian menjadi maskot Taman Nasional Baluran), Macan Tutul, Rusa, Kancil, Monyet, Ayam Hutan (Bekisar), Burung Merak dan aneka macam burung lainnya.

Saya berangkat bersama Dayat, teman saya yang kebetulan kerja dan kos di kota Situbondo. Kami berdua berangkat boncengan naik motor. Sekitar jam 10.00 WIB, kami mulai perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Peralatan yang dibawa antara lain, tas carrier berisi pakaian ganti (karena kami berencana untuk menginap), tenda dome, matras, jaket, senter, dan perlengkapan memancing. Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk membeli bekal logistik (mie instan dan air). Kemudian perjalanan kami lanjutkan, dan finally kurang lebih jam 13.00 WIB kami pun sampai di Taman Nasional Baluran.

Suasana di Taman Nasional Baluran cukup sepi waktu itu, mungkin karena kami ke sini saat hari kerja, bukan saat liburan (lho, kalau hari kerja kenapa Dayat nggak kerja?? pssstt... bolos, brur. dilarang meniru adegan berbahaya ini, jika tetap memaksa ingin mencoba, do it at own risk). Kemudian kami masuk dan melapor di pos informasi untuk mengurusi perijinan. Sampai di pos, ternyata petugas yang mengurusi tiket masih makan siang, di sana kami ditemui oleh petugas jaga yang lain. Sambil mengamati keadaan sekitar, kami pun ngobrol-ngobrol dengan bapat petugas jaga tadi. Wah ternyata keadaan sekitar jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Berdasarkan informasi dari bapak petugas jaga tadi, ternyata di Taman Nasional Baluran camping ground nya berada hanya beberapa meter dari pos informasi. Sementara di padang savana tidak diijinkan untuk mendirikan tenda, sebagai gantinya di sana sudah disediakan wisma oleh pihak Taman Nasional Baluran untuk menginap. Daann... yang lebih mengecewakan lagi, masih berdasarkan informasi dari bapak petugas jaga tadi, untuk saat ini sampai tanggal 21 September 2012, pengunjung kawasan Taman Nasional Baluran tidak diijinkan untuk menginap (baik mendirikan tenda, ataupun menginap di wisma) dikarenakan Taman Nasional Baluran masih kedatangan Tim Inspeksi dari Jakarta.
Melihat peralatan pancing yang kami bawa, bapak petugas jaga tadi juga bilang bahwa di pantai Bama (yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Baluran) pengunjung dilarang untuk memancing ikan yang ada di pantai Bama, karena itu termasuk kawasan konservasi. Waduh... kami bawa pancing sebenarnya kan juga dapat informasi dari internet kalau di pantai Bama boleh memancing, ternyata... informasi yang menyesatkan. Kamipun meminta maaf dan berjanji untuk tidak memancing. Sumpeee deee...

Setelah bapak petugas yang mengurusi tiket datang, kami langsung ijin dan membayar tiket masuk untuk 2 orang plus motor. Yah... biarlah walau sedikit kecewa dengan kondisi di lapangan, kami tetap masuk, itung-itung untuk menghilangkan rasa penasaran akan pemandangan alam savana Taman Nasional Baluran yang konon katanya mendapat julukan "Little Africa in Java".
Dari pos informasi menuju Bekol (padang savana) dengan menunggang motor diperlukan waktu kurang lebih setengah jam dengan menyusuri jalan makadam. Saat melintasi jalan menuju Bekol, beberapa kali kami menemukan titik api alias pohon-pohon yang terbakar, entah karena pengaruh kemarau atau sebab lain. Kami juga sempat berpapasan dengan petugas dari Taman Nasional Baluran yang berusaha memadamkan pohon-pohon yang terbakar. Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Bekol. Wuaaw... pemandangannya gersang, panas, seolah-olah berada di Afrika (lebay). Setelah mengambil beberapa view foto, perjalanan segera kami lanjutkan ke Bama (pantai).

Begitu masuk ke area pantai Bama kata yang terucap pertama kali adalah "Sepi...!!" Yah namanya juga bukan musim liburan. Yang ada di area pantai hanya kumpulan monyet, dan 1 keluarga kecil yang sedang berlibur dan tampak asyik bermain pasir bersama anaknya yang masih kecil. Kami pun kemudian istirahat sejenak menikmati semilir angin pantai. Kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan di sekitar pantai yang memiliki pasir putih, pemandangan laut yang biru dengan ombak yang kecil. Setelah puas mengambil dokumentasi alias berfoto-foto ria, kembali kami istirahat menikmati pemandangan pantai yang menurut kami cukup indah dan terhitung masih bersih (jika dibandingkan dengan pantai lain yang sudah terkenal sebagai tujuan wisata). Kurang lebih jam 15.00 WIB, kami pun beranjak dari pantai Bama dan berencana kembali ke savana Bekol, untuk mengamati pemandangan Bekol saat senja.

Savana Bekol saat senja sungguh indah. Beberapa kumpulan rusa mulai menampakkan diri untuk minum dan bermanja di bawah senja matahari. Sementara padang savana bergoyang-goyang tertiup angin yang cukup kencang. Freedom... bebas lepas... itulah kesan yang saya tangkap. Kami juga sempat naik ke beberapa pos pantau yang ada di Bekol, menikmati kencangnya angin yang berhembus. Setelah puas menikmati senja di Bekol, kamipun langsung bersiap untuk kembali ke pos informasi, dan kembali ke kosannya Dayat.
Di saat perjalanan pulang, kami sempat mengobrol perihal nasib logistik kami (mie instan) yang sudah terlanjur kami beli, eman terlanjur beli logistik ternyata nggak jadi menginap. Akhirnya kami berdua memutuskan besok untuk melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen, agar kiranya logistik yang sudah terbeli tidak sia-sia dan bisa digunakan (halah, alasan yang terlalu mengada-ada). Yaaa... kami sepakat untuk kembali ke kosan untuk beristirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen.

It's called "Little Africa in Java"

share on facebook

Thursday, 16 August 2012

Mudik

Alhamdulillah, nggak seperti tahun kemarin, untuk tahun ini saya ikut mudik ke Yogyakarta. Alhamdulillah lagi tahun ini seluruh anggota keluarga berkesempatan untuk mudik. Nah, mumpung belum berangkat, saya sempatkan corat-coret dulu untuk mengucapkan "Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum. Minal adizin wal faizin, mohon maaf atas segala salah dan khilaf baik dalam ucapan maupun tulisan. Sekali lagi selamat berlebaran buat semua yang merayakan. Merdeka...!!"



share on facebook

Wednesday, 15 August 2012

Shopping

Berbelanja yang dalam bahasa Inggris alias bahasa kerennya disebut shopping, merupakan salah satu kegiatan yang sangat disukai oleh kaum Hawa. Ya... hampir semua kaum Hawa dalam berbagai usia, entah itu anak-anak, cewek remaja, ibu-ibu, hingga nenek-nenek sangat gemar melakukan shopping. Tak terkecuali adek cewek plus ibu saya. #eeeaaa
Mereka kaum Hawa betah berlama-lama di sebuah toko atau mall, terlebih lagi jika barang-barang yang dijual terdapat tulisan diskon, wah 7 hari 7 malam keliling mall buat melihat, memilah, dan (belum tentu) membeli pun mereka kuat. Yakinlah sumpah. Tak terkecuali adek cewek plus ibu saya. #ngik

Seperti hari itu. Saya mendapat mandat untuk mengantar ibu dan adek saya berbelanja. Katanya sih berbelanja bahan-bahan keperluan dapur, seperti gula, mie instan, beras, dan lain-lain. Nah saya didapuk untuk menjadi kuli angkut barang-barang yang nantinya akan dibeli. Okelah kalau begitu, berangkaaat.
Sesampainya di shopping center. kami pun keliling mencari bahan keperluan dapur. Kegiatan ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Rasa bosan dan pusing mulai hinggap. Entah berapa ratus orang yang sedang kumpul dan berbelanja di shopping center tersebut.

Mencari dan membeli bahan keperluan dapur akhirnya usai sudah. Kini giliran mencari keperluan pribadi, yaitu pakaian. Byuh, hampir di semua stand pakaian dijejali aneka rupa manusia. Rasa bosan dan pusing semakin menjadi. Adek saya mulai memilah-milah celana jeans. Menurut perhitungan jam tangan saya, untuk memilah satu celana jeans ini, adek saya memerlukan waktu kurang lebih setengah jam. Setelah ketemu celana jeans yang dimaksud, adek pun mencobanya di ruang ganti pakaian. Ndeh, ternyata apa yang dipilihnya tadi nggak cocok. Kembali kegiatan memilah celana jeans dilakukan. #makinmumet

Kurang lebih membutuhkan waktu satu jam memilih dan membayar di kasir untuk sebuah celana jeans. Kini giliran ibu saya memilih dan membeli jilbab. Amazing, nyaris sama, diperlukan waktu kurang lebih 1 jam-an untuk membeli dua buah jilbab...!! Sementara saya hanya berdiri mematung tengok kanan kiri persis seperti copet yang mencari mangsa, untungnya wajah kriminal saya tidak tertangkap mata satpam yang sedang berjaga. #beruntung

Demikianlah sekelumit kenyataan hidup yang ada. Tidak seperti kaum Adam yang jika membeli sesuatu cepat kilat dan tepat sasaran, kaum Hawa lebih bertele-tele. Entah ada suatu keasyikan tersendiri bagi kaum Hawa saat shopping, yang sampai saat ini saya belum mengetahui keasyikan apa yang ada di hati dan pikiran mereka. Kenyataan hidup lainnya?? Nyatanya saya kurang suka untuk diajak ber-shopping ria...!!


Jember, Ramadhan Kesembilan 1433 H

share on facebook

Damai dalam Kesederhanaan

Jam 14.00 WIB, Bimbim mengeluarkan motornya. Hari ini Bimbim sudah menyanggupi untuk mengantarkan CPU milik teman lamanya yang telah selesai di service. Farid nama teman lamanya, adalah seorang satpam yang bekerja di sebuah dealer motor di kota Jember. Jam 15.00 WIB saat Farid istirahat dari pekerjaannya, mereka berdua janjian di depan stadion Notohadinegoro, kemudian bersama-sama ke rumah Farid untuk merangkai CPU yang sudah Bimbim perbaiki tadi. 
Kurang lebih setengah jam perjalanan dari rumah, sampailah Bimbim di depan stadion, tempat Bimbim dan Farid janjian untuk bertemu. 30 menit kemudian datanglah Farid yang langsung mengajak Bimbim ke rumahnya. Sesampainya di sana, Bimbim langsung merangkai CPU dan mencoba menghidupkannya. Anaknya Farid yang baru berumur 7 tahun senang bukan kepalang.
"Tuh, komputernya sudah bisa, sama Om Bimbim juga sudah diisi game banyak. Tapi jangan lupa belajar, jangan cuma maen game aja", kata Farid kepada anaknya. Si anak hanya tertawa lebar.
Setelah ngobrol sejenak dan mengurusi biaya service, selanjutnya Bimbim langsung undur diri pulang.

Di tengah perjalanan pulang, Bimbim melihat sosok teman lama lainnya yang sedang berjualan bambu di pinggir jalan. 
"Assalamu'alaikum, woy, bos", sapa Bimbim.
"Boh, dari mana bos?", jawab Didik, teman lamanya Bimbim dengan logat Maduranya yang kental.
"Dari mengantarkan CPU ke rumahnya Farid", jawab Bimbim.

Didik dan Farid sudah saling kenal. Sebelum Farid bekerja menjadi satpam, sebelum Didik bekerja wiraswasta berjualan bambu, keduanya adalah sahabat yang bekerja di tempat yang sama, sebagai penjaga kios rokok di area kampus Jember. Di kios rokok inilah beberapa tahun yang lalu Bimbim kenal dan akrab dengan keduanya.

"Saya sama istri sama si kecil. Si kecil pulang sekolah langsung ke sini bos, itu mereka", kata Didik sambil menunjuk seorang wanita yang sedang berjualan buah blewah dan beberapa jenis kembang api, serta anak kecil umur 7 tahun yang sedang bermain sendiri.
"Le, ada Om Bimbim ini, Le", teriak Didik kepada Rafi, anaknya.

Bimbim kemudian memarkir motornya dan menghampiri Rafi serta ibunya.
"Wah, sudah besar rek, sudah sekolah SD ya, Le?", tanya Bimbim kepada Rafi.
"Iya, Om", jawab Rafi.
"Gimana Mbak, laris dagangannya?", tanya Bimbim kepada istrinya Didik.
"Lumayan Mas, mumpung bulan puasa cari kesibukan jualan blewah sama kembang api", jawab ibunya Rafi.
"Bos, buka puasa di rumahku saja bos, si kecil juga sudah kangen sama bos. Pokoknya hari ini harus buka puasa di rumahku bos. Sekali-kali menikmati buka puasa dalam suasana desa", paksa Didik kepada Bimbim.
"Haiyah, rumah saya juga di desa bos", jawab Bimbim.
"Pokoknya harus buka puasa di rumahku", paksa Didik lagi.
"Dek, ayo kemasi dagangannya", lanjut Didik memberi perintah kepada istrinya.
"Om, aku bonceng sama Om yah. Nanti tak tunjukkan jalan ke rumahku", pinta Rafi kepada Bimbim.
"Ok, siap", jawab Bimbim sambil tersenyum.

Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan dengan motor masing-masing ke rumah Didik. Sepanjang perjalanan si kecil Rafi mengoceh tiada hentinya menjelaskan rute perjalanan menuju rumahnya. Setelah melewati beberapa pematang sawah yang berada di belakang tembok besar gudang tembakau, sampailah mereka di halaman rumah yang baru saja dibangun dan belum rampung 100%.

"Ayo mandi dulu sana, Le", perintah Didik kepada anaknya.
"Takutnya nanti gelap bos, maklum nggak punya sumur, kalau mandi harus ke sungai", kata Didik kepada Bimbim.
"Ayo masuk bos, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Maaf rumahnya kotor", lanjut Didik.
"Halah, biasa bos, di rumah saya juga seperti ini", jawab Bimbim.
"Oiya sungainya di sebelah mana bos?? Saya mau wudhu', belum sholat ashar", lanjut Bimbim.
"Ayo saya antarkan bos. Le, ayo ke sungai bareng-bareng", panggil Didik kepada Rafi.
Setelah sholat ashar, Bimbim dan Didik pun ngobrol ngalur ngidul di ruang tamu. Sementara istri Didik sibuk di dapur menyiapkan menu untuk berbuka puasa.

Beberapa jam kemudian gema adzan maghrib pun berkumandang. Alhamdulillah... setelah semuanya berkumpul dan menu buka puasa sudah terhidang dengan sempurna, Didik pun mengajak Bimbim untuk berbuka puasa bersama. 
"Makan seadanya bos, ayo jangan malu-malu", kata Didik.
"Waduh, ini menunya sangat komplit dan istimewa bos, sampai bingung saya mau makan yang mana", jawab Bimbim.
"Makan yang banyak, Om, biar gemuk", celoteh Rafi.
"Wah, Om Bimbim nggak boleh makan banyak-banyak, Le. Nanti kalau gemuk bukan Bimbim lagi, tapi Bombom", gurau Bimbim.
"Hahahaha", Didik dan istrinya tertawa bersama-sama.
"Ayo tambah lagi nasinya bos", kata Didik sambil menyiduk nasi dan menumpahkannya ke piring Bimbim.
"Sudah bos, waduh saya itu nggak bisa makan banyak-banyak bos, nanti kekenyangan jadi nggak sanggup sholat tarawih", jawab Bimbim.
"Ayo Mas, makanannya masih banyak, nanti nggak ada yang makan", kata istri Didik.
"Bapaknya Rafi senang kalau ada temannya pas buka puasa gini", sambungnya.
Bimbim terlihat sangat lahap dan menikmati lalapan terong yang tersaji.

Setelah acara makan-makan selesai, Bimbim pun ijin untuk sholat maghrib. Didik mempersilahkan untuk sholat di kamar. Kemudian semuanya berkumpul di ruang tamu. Segelas kopi panas dan sebungkus rokok sudah dihidangkan. Sementara si kecil main kembang api bersama teman-temannya di teras depan. Suasana yang cukup menyenangkan.
Beberapa tetangga ada yang bertamu ke rumah Didik. Ngobrol santai sambil menikmati kopi.

Nggak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Tidak lama kemudian Bimbim pun pamit untuk pulang.
"Rafi, Om Bimbim pulang dulu ya Le, ini buat sangu ke sekolah", ucap Bimbim sambil menyerahkan lembaran uang ke Rafi.
"Terima kasih banyak bos, mbak, saya pamit pulang dulu", Bimbim pun pamit kepada Didik dan istrinya.
"Iya sama-sama bos, jangan kapok main-main ke desa", kata Didik.
"Waduh, ya nggak lah bos. Tempatku lho juga di desa. Sekali lagi terima kasih banyak. Ditunggu kunjungan balik ke rumah saya. Pamit dulu Assalamu'alaikum", timpal Bimbim.
"Wa'alaikumsalam", jawab Didik dan istri hampir bersamaan.

Bimbim pun pulang. Kembali membelah pematang sawah dalam gelap malam sambil bersyukur dan menikmati apa yang baru saja terjadi.


Jember, Ramadhan Kelima 1433 H

share on facebook

Friday, 13 July 2012

Petualangan Menuju Ranu Kumbolo


Mengawali postingan di bulan Juli ini, aku akan bercerita mengenai perjalananku menuju Ranu Kumbolo, yang berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sekedar informasi bagi yang belum tahu, Ranu Kumbolo adalah sebuah danau gunung yang luasnya kurang lebih 14 Ha. Ranu Kumbolo berada di ketinggian kurang lebih 2.400 Mdpl, berlokasi di kaki Gunung Semeru dan merupakan salah satu titik berangkat untuk mendaki Gunung Semeru. Biasanya para pendaki berkemah di area Ranu Kumbolo sebelum mendaki Gunung Semeru. Baiklah saatnya cerita petualangan menuju Ranu Kumbolo dimulai, here we go...

05 Juli 2012 
Rencana awal perjalanan menuju Ranu Kumbolo akan diikuti oleh empat orang termasuk aku. Nyatanya pada hari H, dua orang mengundurkan diri. Akhirnya ya tinggal aku dan temanku, Dayat, yang jadi berangkat. Kami berdua memutuskan berangkat berboncengan dengan motorku. Kurang lebih jam 08.00 WIB, kami berdua berangkat menuju Lumajang lewat jalur Jember Selatan. Dengan semangat '45 motor digeber dengan kecepatan sedang. Jam 10.00 WIB kami berdua sudah sampai di pasar Senduro, Lumajang. Di sini kami mengecek kembali barang bawaan kami dan melengkapi logistik yang belum ada, seperti air mineral, bubur instan, dan mie instan (mau bawa dari Jember males, berat di jalan hi..hi..hi).
Cek perlengkapan dan  logistik sudah beres, kurang lebih jam 10.30 WIB perjalanan kami lanjutkan menuju Desa Ranu Pani (area pemukiman terakhir sebelum mendaki menuju Ranu Kumbolo). Perjalanan masih panjang, rute menuju Desa Ranu Pani jalannya amburadul, hampir 75% jalan makadam. Separuh perjalanan, karena merasa capek terpontang-panting batu jalanan, kami pun memutuskan beristirahat sejenak. Sepanjang mata memandang yang ada hanya pepohonan hijau, hawanya begitu sejuk.

Setelah dirasa cukup beristirahat, perjalanan kami lanjutkan. Kurang lebih jam 13.00 WIB, kami pun tiba di Desa Ranu Pani. Selanjutnya kami pun mengurus surat perijinan di Pos Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Menyerahkan surat keterangan sehat, foto copy KTP, mengisi formulir perijinan, mengisi surat pernyataan (lupa nggak bawa materai tersenyum lebar), mengisi daftar barang-barang yang kami bawa, kemudian membayar biaya administrasi, dan akhirnya surat ijin mendaki ke Ranu Kumbolo pun kami kantongi. Selanjutnya kami menitipkan motor kami di area parkir yang sudah disediakan. Kurang lebih jam 13.30 WIB, dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, kami pun berangkat menuju Ranu Kumbolo.


Woke, perjalanan panjang dimulai, jalan pelan-pelan mengikuti track yang sudah ditentukan. Jalanan mulai menanjak, jantung mulai berdegup kencang, napas ngos-ngosan. Kami istirahat sejenak, menormalkan degupan jantung dan mengatur jalannya napas. Setelah jantung dan napas sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan, kami lanjutkan lagi perjalanan menyusuri jalan setapak.
Alam menunjukkan keindahannya. Cuaca cerah, hawa sejuk, pepohonan dan bukit hijau terhampar, nyanyian burung, tarian beberapa ekor tupai di atas pohon, bunga dengan aneka warna mengiringi perjalanan kami. Subhanallah... indah nian alam ini.
Saat rasa capek melanda kami pun istirahat sejenak sambil bertegur sapa dengan para pendaki lain. Di rasa istirahat cukup, perjalanan kami lanjutkan, begitu seterusnya. Kami mah orang-orang santai, lebih tepatnya sih kumpulan orang slenge'an alias setengah gila. Sepanjang perjalanan banyak ngelawak. Orang pendaki lain jalan pakai sepatu, minimal pakai sandal gunung, lha si Dayat pakai sandal jepit. Orang pendaki lain kalo' istirahat minum atau makan camilan buat nambah energi, eh kami malah merokok. Orang pendaki lain kalau lagi jalan ada yang mendengarkan musik tuh paling nggak yang didengerin lagu Top 40, lha kita jalan sambil mendengarkan lagu anak-anak... "Aku adalah anak gembala, selalu riang serta gembira.... " berguling di lantai. Nggak masalah, namanya juga kumpulan orang setengah gila, jadi harap dimaklumi aja. Perjalanan semakin menanjak, posisi semakin tinggi, wow... kami serasa berada di negeri atas awan, biutipul. Nggak terasa sore hari mulai menjelang, suasana semakin gelap, senter aku keluarkan untuk menerangi jalan. Kurang lebih jam 18.30 WIB, kami pun sampai di Ranu Kumbolo, posisi kami turun berada di seberang shelter (biasanya orang-orang mendirikan kemah di dekat shelter, di arah barat Ranu Kumbolo). Karena sudah capek dan gelap, akhirnya kami tidak melanjutkan perjalanan ke area shelter tempat orang-orang banyak mendirikan tenda. Kami putuskan untuk mendirikan tenda di tempat kami turun (seberang shelter), hawa dingin mulai menyergap. Setelah tenda berdiri, jaket, sarung tangan, dan kaos kaki dikenakan, kami pun masak mie instan untuk menghilangkan lapar. Makan mie instan diantara dinginnya malam yang bertabur berjuta bintang dan indahnya bulan purnama, sekali lagi sungguh biutipul. Acara makan selesai, kami pun segera masuk tenda dan menutup rapat badan dengan sleeping bag. Bbrrrrr.... dingin menusuk tulang, kaki seperti mati rasa, sepertinya suhu malam itu minus entah berapa derajat. Lha butiran-butiran embun dari kabut yang meresap di tenda jadi kristal es tipis-tipis man...!! Dengan badan sedikit menggigil, kami mencoba untuk bersitirahat memulihkan tenaga dan berharap pagi segera menjelang.

06 Juli 2012
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB, tapi hawa dingin masih menusuk tulang. Dengan malas kami keluar tenda. Wow... jam 07.00 WIB Ranu Kumbolo masih diselimuti kabut tipis, airnya sedingin es. Matahari sebenarnya sudah bersinar, cuaca cerah, tapi karena posisi kami berada di arah timur dan terhalang bukit, otomatis cahaya dan hangatnya matahari belum bisa kami rasakan. Kami hanya bisa memandang kumpulan kemah yang berada di seberang kami, betapa nikmatnya mereka sudah bisa menghangatkan diri pada sinar matahari. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan di area sekitar untuk mencari sinar matahari guna menghangatkan badan sambil jeprat-jepret pemandangan yang ada. Setelah puas menghangatkan badan dan menikmati cerahnya pagi, kami pun menyiapkan sarapan. Menu pagi ini adalah bubur instan plus kopi... nikmaaat.
Acara sarapan usai, kami pun bersiap berkemas untuk pindah ke arah sebelah barat Ranu Kumbolo (tempat shelter berada). Perjalanan dari sisi timur Ranu menuju sisi barat nggak begitu jauh, hanya saja jalan setapak memang sedikit menanjak. Akhirnya yihaaa...
Sampai lokasi, kami pun segera mencari tempat mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, Dayat memutuskan untuk beristirahat sejenak, sementara aku berbekal Canon 400D mencoba eksplor area sekitar. Tak lupa mencoba Tanjakan Cinta, yang konon mitosnya kalau kita bisa melewatinya dengan lancar tanpa menoleh ke belakang, maka cinta kita kepada pasangan kita akan abadi, oh so sweet hi..hi..hi. Ternyata Tanjakan Cinta jalannya memang sangat menanjak, cukup berat kalau berjalan ke puncak tanpa beristirahat. Dengan napas ngos-ngosan, akhirnya aku pun berhasil sampai atas Tanjakan Cinta... yeaa. Pemandangannya sungguh luar biasa, dari atas dengan arah pandangan ke timur kita bisa melihat keindahan Ranu Kumbolo, sementara dengan arah pandangan ke barat kita bisa melihat Oro-Oro Ombo (padang ilalang yang sangat luas) sekali lagi is biutipul.
Selepas  itu aku turun kembali ke tenda. Sampai di tenda Dayat sudah bangun, lalu kami pun bikin kopi dan bersantai di depan tenda. Menikmati segelas kopi, rokok, kacang, plus alunan musik Slank dari HP yang tidak bersinyal, oh God... Subhanallah, sungguh nikmat tiada terkira. Di sela-sela bersantai, datang seseorang memberi kami bungkusan logistik, ada kopi, teh, bumbu masak, gula, garam, bahkan beras. Yah, mungkin mereka iba melihat tampang kami dan akhirnya berinisiatif memberikan bantuan langsung tunai kepada kami tertawa.
Perlahan tapi pasti suasana dingin kembali datang, rupanya sore hari telah menjelang. Kabut datang berkali-kali, cuaca terlihat mendung. Layaknya seorang dukun, kami memprediksi kalau nanti malam gerimis akan turun. Untuk berjaga-jaga agar tenda tidak tembus (maklum tenda dome kami hanya tenda murah dengan single layer), akhirnya tenda kami lapisi dengan jas hujan yang aku bawa. Petang menjelang, dan benar prediksi kami, gerimis pun turun. Cuaca semakin dingin, kami pun masuk ke tenda dan melanjutkan acara ngopi dalam tenda. Karena hawa dingin semakin terasa, kami pun masuk ke sleeping bag masing-masing dan akhirnya ZzzZz... tidur.

07 Juli 2012
Hawa masih dingin, jam menunjukkan pukul 05.00 WIB. Alamak... aku harus bangun. Sunrise pagi ini harus diabadikan. Segera aku keluar dari sleeping bag dan membuka pintu tenda, tapi weleh... ternyata cuaca masih mendung dan sepanjang mata memandang ke depan yang tampak hanya kabut, kabut, dan kabut. Tanpa putus asa akhirnya aku tetap bangun, minum, nyalakan rokok, dan keluar tenda kemudian berjalan menuju area yang agak tinggi di belakang tenda. Ternyata di luar sudah ada beberapa orang yang sudah bersiap dengan kamera masing-masing dan ingin mengabadikan momen matahari terbit. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa cukup nyaman untuk mengambil view, aku duduk sambil berharap kabut dan mendung segera pergi dan berganti dengan datangnya matahari terbit. Rokok di tangan sudah habis, kembali aku nyalakan rokok baru, itung-itung menghilangkan dinginnya pagi. 1, 2, 3 batang rokok sudah habis, nyatanya pemandangan yang ada tidak berganti, hanya ada kabut, kabut, dan kabut. Beberapa orang yang sejalan dengan keinginanku untuk mengabadikan matahari terbit, satu persatu mulai pergi. Sementara aku masih setia menunggu, menunggu, dan menunggu. Setelah lama menunggu dan ternyata apa yang ditunggu tak kunjung datang, aku pun memutuskan kembali ke tenda. Si Dayat rupanya sudah bangun dan duduk santai di depan tenda. Setelah cuci muka dengan dinginnya air Ranu Kumbolo, kami mulai masak untuk sarapan. Acara masak dan sarapan selesai, dan kami tutup dengan menikmati segelas kopi... santai di depan tenda. Kemudian kami packing, membersihkan sampah dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah yang ternyata sudah di sediakan di area Ranu Kumbolo, serta bersiap turun kembali ke Pos Ranu Pani. Setelah semuanya selesai kurang lebih jam 11.00 WIB, kami pun turun ke Pos Ranu Pani. Sepanjang perjalanan kami berinisiatif memunguti sampah-sampah plastik yang berserakan dan dibuang begitu saja oleh orang-orang yang lewat. Ada plastik bekas air mineral, bungkus permen, bungkus mie instan, bungkus coklat, bungkus snack, dan lain sebagainya. Sampah-sampah tadi kami kumpulkan ke dalam tas plastik dan mengikatkannya ke tas carrier kami. Sebuah penghormatan kecil kami terhadap alam. Seharusnya kita sadar diri, alam sudah memberikan keindahannya kepada kita, tapi kenapa kita malah mengotorinya?? Ya nggak?? Yah, semoga ke depannya kita semua diberi kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Amin. (cieee... tumben kumpulan orang yang sedikit gila bisa berpikir waras) tertawa.

Alhamdulillah perjalanan lancar, karena jalan yang dilalui lebih banyak menurun dari pada menanjak, walau tetap saja bikin kami ngos-ngosan. Kurang lebih jam 15.00 WIB kami sampai di Pos Ranu Pani. Kami pun melapor kembali ke Pos, untuk memberitahukan bahwa kami sudah turun dengan anggota lengkap sesuai dengan laporan sebelum berangkat. Acara laporan selesai, selanjutnya aku ambil motor di bagian parkir, jam 15.30 WIB kami pun pulang kembali ke Jember. Sekali lagi perjalanan lumayan lancar, walau jalan makadam tapi track nya menurun. Ranu Pani - Senduro - Lumajang - Jember (via utara alias jalan utama). 18.30 WIB kami pun selamat sampai rumah. Yeah... petualangan yang menyenangkan, dan suatu saat aku akan kembali lagi untuk mengunjungimu wahai Ranu Kumbolo.

Beberapa Hasil Jepretan
 


share on facebook

Thursday, 14 June 2012

Siklus Waktu




Duka datang tak terbayangkan
Bagaikan mimpi
Kepergian itu sangatlah nyata
Kita memang terpisah

Siklus waktu tlah mengajarkan
Sang mentari pun terbit dan tenggelam
Lihatlah...

Perpisahan hanyalah perpindahan kehidupan
Sebenarnya dia tak sungguh hilang
Hanya terpisah dengan raga

Kepergian itu menusuk hati
Menembus jiwa
Derai air mata takkan membuat
Dia bahagia di sana

Siklus waktu tlah mengajarkan
Sang mentari pun terbit dan tenggelam
Lihatlah...

Perpisahan hanyalah perpindahan kehidupan
Sebenarnya dia tak sungguh hilang
Hanya terpisah dengan raga

Kehidupan diwarnai yang datang dan yang pergi
Maka bangunlah dia tak sungguh hilang
Hanya terpisah sementara

(Cupumanik - Siklus Waktu)

share on facebook

Tuesday, 12 June 2012

Jodoh


Sebuah kata yang sangat misterius. Konon jodoh adalah sebuah rahasia Illahi. Haruskah jodoh itu dicari atau cukup ditunggu?? Entahlah... Ada yang bilang jodoh itu cukup ditunggu saja, nanti kalau sudah saatnya pasti dia akan datang. Ada pula yang mengatakan, jodoh itu nggak cuma ditunggu, tapi harus berusaha dicari, harus ikhtiar. Nah mencarinya kemana ya?? Entahlah...
*Mencari dan menanti jodoh datang* #Eeaaaaa

share on facebook

Thursday, 7 June 2012

Radio Show



Radio Show 
OK, kali ini aku akan membahas mengenai Radio Show. Apa itu Radio Show?? Yakin nggak tau acara Radio Show?? Ckckckck... kasihan deh loe...!! Baiklah biar kalian semua nggak jadi insan yang patut dikasihani, akan aku jelaskan sedikit deskripsi mengenai acara Radio Show. Tapi sebelumnya mohon maaf, bukannya mau beriklan atau apalah namanya, karena postingan ini akan membahas suatu acara televisi. Kalau pun nanti dianggap ngiklan, it's OK nggak masalah, aku ikhlas dan ridho beriklan secara gratis, toh acara ini bagus dan memang layak untuk di iklankan.hebat



Radio Show adalah sebuat program acara dari tvOne. Program acara ini merupakan program acara musik yang ditayangkan secara live. Pada awal kemunculannya acara ini bisa disaksikan di tvOne setiap hari Senin-Jumat, dari jam 22.30 WIB sampai dengan jam 02.00 WIB. Dan akhirnya kini bisa disaksikan setiap hari pada jam 23.00 WIB sampai jam 01.00 WIB.

Segmen acaranya selain menyuguhkan penampilan live musisi hebat Indonesia juga diselingi dengan pemutaran video klip dari band-band legend, serta dialog interaktif dengan narasumber yang cukup inspiratif.
Aku sendiri lupa kapan acara ini perdana tampil di televisi. Yang aku ingat awal munculnya acara ini dipandu oleh presenter kawakan Sys NS. dan disiarkan secara langsung dari salah satu cafe di daerah Kemang, Jakarta. Nggak lama setelah itu Sys NS. didampingi oleh Sandy PAS Band dalam membawakan acara Radio Show. Kehadiran host baru, Sandy PAS Band cukup menyemarakkan acara ini, karena apa?? Karena Sandy PAS Band itu orangnya ceplas-ceplos dan sedikit cerewet (damai om Sandy). Karena alasan kesehatan, Sys NS. beberapa kali absen sebagai host Radio Show, hingga akhirnya host Radio Show total dipegang oleh Sandy PAS Band.

Lama berjalan, entah sudah berapa kali episode dan kemungkinan dikarenakan tempat yang sempit sementara penonton yang datang ke cafe Kemang cukup membludak, akhirnya acara Radio Show dipindah ke Plaza Festival, daerah Kuningan, Jakarta. Acara Radio Show yang semula dibikin di indoor, kini pindah ke outdoor, makin mantap...!!
Berhubung tempat sudah cukup memadai, alhasil musisi pengisi acara pun selalu tampil maksimal dalam setiap performanya. Berbeda dengan acara musik-musik yang marak di channel televisi lain (yang konon katanya penyanyinya banyak yang lipsync dan penonton yang datang adalah penonton bayaran dengan gaya joget kucek jemur muntah you know lah yang aku maksud). Di Radio Show semua itu nggak ada man (to Wagiman, Suparman, dan Man man yang lain... salam metal!!), di Radio Show semua musisi yang tampil adalah musisi hebat, nyanyi hebat tanpa lipsync, performa hebat dengan skill bagus, dan penontonnya nggak kalah hebat, karena yang datang mayoritas adalah fans sejati musisi yang tampil.

Kerap kali Radio Show menampilkan musisi-musisi indie (bahkan dari berbagai daerah) selain tentunya menampilkan musisi kaliber nasional yang sudah malang melintang di dunia musik Indonesia. Hampir semua genre musik disajikan, mulai dari Rock, Punk Rock, Rock Metal, bahkan Undergorund, kemudian ada Blues, Jazz, Pop, Reggae, bahkan Etnik. Kecuali genre-genre dan musisi industrial yang marak sekarang ini, sepertinya hanya itu belum ada di Radio Show (dan sepertinya nggak bakal ada ding). Beberapa deretan musisi hebat yang sudah tampil di Radio Show antara lain: Slank, BIP, Boomerang, RI1 (Projectnya Roy Jeconiah dan John Paul Ivan), Jamrud, Edane, Voodoo, Power Metal, Superman Is Dead, The SIGIT, Bondan & Fade 2 Black, Gugun Blues Shelter, Rama Satria, Burgerkill, PAS Band, Netral, /rif, Tony Q Rastafara, Souljah, Fariz RM., Endah 'N Rhesa, Andien, Tompi, Drew, dan masih banyaaaaaak lagiiii musisi-musisi hebat yang di tampilkan di Radio Show. Bahkan nggak jarang Radio Show dijadikan sebagai tempat reuni musisi berkelas, seperti PAS Band yang sempat mengajak Richard Mutter (Ex. Drummer PAS Band) untuk tampil bersama, kemudian ada Sahara yang tampil full sejak personil pendiri sampai personil yang sekarang.

Intinya acara ini sangat bagus dan sangat aku rekomendasikan buat ditonton, khususnya bagi kalian yang suka musik hebat. Acara TOP ini layak dapat bintang dan layak diacungi 1.000 jempol (dua jempol tangan dari aku, dan sisanya aku pinjam dari tetangga-tetangga se-kampung) hebat.

Host

Sebuah acara akan menarik jika dipandu oleh pembawa acara yang menarik pula. Seperti yang sudah aku paparkan di atas, bahwa pada awal kemunculannya Radio Show dipandu oleh presenter sekaligus penyiar radio kawakan, yaitu Sys NS., kemudian Sys NS. dapat teman baru yaitu Sandy PAS Band. Sekian lama berlangsung, akhirnya Sys NS. tidak lagi menjadi host Radio Show. Saat itu Radio Show total dipandu oleh Sandy PAS Band, hingga kemudian Sandy PAS Band dapat teman host baru, yaitu Lukman Superglad (biasa dipanggil Bulux, vokalis sekaligus gitaris Band Indie, Superglad) hingga saat ini. Kedua host ini sama-sama gila dan kocak, kadang kala saling ejek-ejekan, pokoknya soal kegilaan, keduanya cukup kompak.
Hingga pada suatu malam, seperti biasanya saat jam dinding menunjukkan pukul 23.00 WIB dan kebetulan warnet sepi, aku bergegas menutup usaha warnetku dan langsung menuju kamar guna nonton acara Radio Show. Mata yang semula terasa agak berat karena serangan kantuk, tiba-tiba jadi segar dan melek seketika. Ada apa gerangan?? Rupanya hal ini dikarenakan acara Radio Show malam itu ada host baru...!! Telah hadir sesosok manusia cantik laksana bidadari yang turun dari khayangan...!! Siapakah gerangan dirinya?? Dia adalah Anita Maerani atau dikenal sebagai Anita Mae. Gadis cantik asal Mataram, Lombok, yang terhitung baru di dunia selebritis.




Bagaimana friends?? Cakep kan?? jatuh cinta 
Menurut informasi yang aku dapat di google, sebenarnya Anita Mae ini sudah cukup lama nongol di televisi, khususnya sebagai pembawa acara televisi. Namun sebagai manusia yang jarang nonton tv, aku taunya ya pas doi tampil jadi host di Radio Show. Dan tentu saja, sebagai lelaki normal yang masih tuna asmara, seketika itu juga aku langsung terkesima oleh kehadirannya. pipi memerah 
Tampil dengan busana cukup menawan akan tetapi membawakan sebuah acara musik dengan apa adanya. Oh... manisnya...
Pada awalnya aku kira doi cuma sebagai host tamu, ternyata eh ternyata  si doi terus-terusan jadi hostnya Radio Show. Makin betah melek nih. Mungkin doi jadi host buat ngimbangi 2 host sebelumnya yang nggak karu-karuan tertawa (sorry om Sandy dan om Bulux damai). Apalagi kalo' pas doi tampil pake' kacamata gitu, doh... makin terlihat cakep, sumpah deh.

Moga-moga aja doi bisa jadi host Radio Show selamanya, biar yang nonton makin semangat dan makin betah melek.

Baiklah, demikian sedikit penjelasanku mengenai Anita Mae, eh maksudku mengenai acara Radio Show di tvOne. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan rujukan buat kalian semua saat nonton acara televisi. Jangan lupa tonton terus Radio Show setiap hari, dari jam 23.00 WIB sampai jam 01.00 WIB. Salam Rock...!! 
Sumber  Photo (Capture dari Video Radio Show)



Oh... Anita Mae... melamun

share on facebook

Wednesday, 6 June 2012

Error 99 di Kameraku


Konon Error 99 ini adalah penyakit bawaan kamera DSLR Canon. Biasanya penyakit ini menyerang lensa kit dari kamera. Saat kita akan memotret sebuah obyek, tiba-tiba di layar LCD muncul tulisan Error 99 dan kita diminta untuk mematikan kamera kemudian menghidupkannya kembali. Error 99 menyerang lensa bisa pada range tertentu atau secara keseluruhan.
Nah kebetulan kamera jadulku (EOS 400D) mengalami penyakit ini. Error 99 muncul saat zoom ring diatur pada range tertentu. Cukup menyebalkan memang. Setelah googling, banyak tips dan trik untuk mengatasi penyakit bawaan ini. Beberapa tips menyarankan agar kita membersihkan konektor (terminal kuningan) dengan penghapus pensil, tapi setelah aku coba nyatanya cara ini tidak berhasil (atau mungkin caraku yang salah??). Ada pula yang menyarankan untuk membawa ke tempat service resmi guna menanggulangi penyakit Error 99 ini, bahkan ada pula yang menyarankan agar kita membeli lensa baru saja dari pada merepotkan. Huaaa... padahal harga lensa kan nggak murah. Eman kalo' kataku (maklum kere) hi..hi..hi.

Akhirnya ada sebuah tips dan trik yang aku dapat dari forumnya Fotrografer.net. Setelah aku praktekkan, alhamdulillah Error 99 bisa diatasi. Bagaimanakah caranya?? Cukup simpel.
Tinggal pasang secuil selotip pada konektor (terminal kuningan) yang ada pada lensa kit...!!
Apa bisa?? Lha buktinya bisa. Apa nggak bahaya?? Alhamdulillah sudah beberapa bulan dipraktekkan, sampai sekarang masih tokcer nggak ada masalah, lagian bukan bom kan, jadi nggak bahaya kok tersenyum lebar.
Namun, perlu diingat, bahwasannya cara tersebut di atas tetap mempunyai konsekuensi. Apakah itu??
Karena konektor (terminal kuningan) di lensa dikasih selotip, otomatis lensa nggak konek dengan body kamera, sehingga dalam hal ini lensa kamera nggak terbaca oleh body kamera. Maka setting aktivitas memotret semuanya dilakukan secara manual (baik itu mode kamera, maupun pengaturan lensa). Dengan kata lain, lensa kamera nggak bisa di-auto focuskan. Aku pikir itu nggak masalah tho?? Dari pada lensa dibuang sayang, alias tergeletak tidak digunakan hayoo?? Itung-itung menajamkan mata dan feeling saat motret.
Nah, di sini body kamera kan nggak membaca lensa, terus pengaturan aperture nya gimana??
Untuk pengaturan aperture nya, disetting dahulu saat lensa belum di selotip. Jadi sebelum di kasih selotip, pasang lensa pada kamera, kemudian pilih mode Manual, dan setting aperture nya. Setelah itu lepas lensa, pasang selotip, dan pasang kembali lensa pada kamera. Secara otomatis aperture akan mengikuti settingan kita tadi. Aku di sini menyetting aperture dengan bukaan kecil (F/11), karena lensa yang berselotip ini biasanya aku gunakan untuk memotret landscape. Sementara untuk potrait atau close-up aku pakai lensa cadangan, lensa Fix 50 mm.

Baik, demikianlah sedikit tips dan trik untuk mengatasi Error 99 yang biasanya muncul di DSLR Canon. Semoga bermanfaat. Salam jepret metal metal!!.


share on facebook