"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Monday, 4 February 2013

Pantai Bandealit


06-07 Oktober 2012, bersama Saboy, Dayat, Arif, dan Hari, saya berangkat refreshing mengunjungi Pantai Bandealit yang terletak di sisi Selatan Kabupaten Jember, tepatnya di Kecamatan Tempurejo. Pantai Bandealit berada dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri, masih satu gugusan dengan Teluk Hijau dan Pantai Sukamade (tempat konservasi penyu) yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Pantai Bandealit menyuguhkan pemandangan alam yang masih alami dengan deburan ombak khas pantai Selatan, selain itu di Pantai Bandealit juga terdapat Goa Jepang yang merupakan pos pengamatan milik tentara Jepang saat jaman penjajahan dulu. Karena berada dalam kawasan Taman Nasional, maka selain dijadikan tempat wisata alam, Pantai Bandealit juga dijadikan tempat konservasi tumbuhan dan hewan yang dilindungi, antara lain ada Bunga Rafflesia, Banteng, Rusa, Elang, dan lain sebagainya.

Selain refreshing, tujuan kami berlima ke Pantai Bandealit adalah untuk memancing ikan. Peralatan berupa 3 alat pancing sudah kami siapkan, pun peralatan kemping, karena kami akan menginap di pantai. Kurang lebih jam 10.00 WIB, kami berlima dengan 3 motor berangkat menuju Pantai Bandealit. Sampai di pasar Ambulu - Jember, kami berhenti sejenak untuk membeli udang yang nantinya akan digunakan sebagai umpan saat memancing. Perjalanan berlanjut, hingga sampai desa terakhir sebelum masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri kami berhenti di sebuah toko untuk berbelanja kebutuhan logistik seperti, mie instan, air mineral, kopi sachet, dan rokok tentunya.
Memasuki kawasan Taman Nasional Betiri perjalanan pun menjadi berat, karena kondisi jalan makadam yang parah. Setelah terpontang panting sekian lama di perjalanan, akhirnya kurang lebih jam 13.00 WIB sampailah kami pos pemukiman penduduk, disitu kami ijin ke bapak penjaga pos untuk masuk ke Pantai Bandealit. Sebelum menuju ke pantai, kami berlima menyempatkan untuk mampir ke rumah pamannya si Saboy yang kebetulan tinggal di pemukiman penduduk dekat dengan Pantai Bandealit. Di situ kami mendapat jamuan makan siang (bagi saya tepatnya sarapan, karena dari pagi belum makan haha.. Alhamdulillah). Setelah mengobrol panjang kali lebar, akhirnya Pak Nasir, paman si Saboy berinisiatif untuk menemani kami berlima selama di Pantai Bandealit, asyik dapat guide gratisan nih. Setelah berkemas, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sisi Timur pantai. Setelah memarkir motor di semak-semak, kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Melewati beberapa wisma penginapan, tembus ke hamparan pasir luas dengan pemandangan pantai yang dihiasi ombak ganas khas pantai Selatan. Suasana pantai tampak sepi, hanya ada beberapa orang pemancing dan 2 orang bule yang sedang bermain pasir. Mungkin karena kondisi akses jalan yang kurang bagus menyebabkan Pantai Bandealit bukan menjadi tempat wisata alam yang banyak didatangi wisatawan. Atau mungkin juga akses jalan yang kurang bagus memang sengaja dibiarkan begitu saja, agar sedikit wisatawan yang datang?? Karena dengan sedikitnya jumlah pengunjung, maka keasrian dan kebersihan pantai akan lebih terjaga... Entahlah.
Masih bersama Pak Nasir, kami terus berjalan menyusuri pasir bibir pantai menuju kumpulan batu karang di sisi Timur untuk memancing. Setelah sampai, kami pun segera mengeluarkan peralatan memancing. Alat pancing yang berjumlah 3 masing-masing digunakan oleh Pak Nasir, Saboy, dan Dayat, sementara Arif dan Hari menjadi penonton. Saya sendiri sibuk mendokumentasikan pemandangan yang ada, dan akhirnya berinisiatif bikin kopi agar kegiatan memancing jadi lebih enjoy. Berbekal nesting dan parafin yang sudah di bawa, enam gelas kopi pun sudah terhidang.

Sampai hari menjelang sore, tak satu ekor ikan pun yang terpancing. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi kegiatan memancing dan bersiap pindah tempat ke sebelah Barat untuk mendirikan tenda. Setelah menemukan tempat yang dirasa pas, motor kami parkir dan tenda pun didirikan. Sementara Pak Nasir pulang dan berjanji nantinya akan kembali lagi untuk menemani kami. Petang menjelang, angin bertiup cukup kencang, sampai tenda yang sudah berdiri sempat roboh beberapa kali hahaha...
Setelah bernarsis-narsis ria bersama panorama sunset pantai, kami memutuskan untuk memasak mi instan plus bikin kopi. Karena persediaan air tinggal sedikit, kami pun nekat memasak menggunakan air payau (edaaan haha). Di saat mulai merebus air payau, datanglah Pak Nasir membawa jala ikan, nasi putih, dan tambahan persediaan air. Sambil menunggu air masak, Pak Nasir mengajak untuk menjala ikan. Saboy, Dayat, dan Arif mengiyakan ajakan Pak Nasir, sementara saya kebagian sebagai koki malam itu, standby di tenda menyiapkan makan malam, lha Hari?? Rupanya Hari giginya sedang ngilu, jadinya nggak tertarik untuk ikut menjala dan memutuskan untuk tetap di tenda. Saya tawarkan balsem untuk mengurut rasa ngilu dan sebutir obat pereda nyeri kepada Hari. Beberapa saat kemudian Hari memutuskan untuk tidur di dalam tenda. Ngik... tinggalah saya sendiri sibuk menyiapkan makan malam dengan menu mie goreng hasil rebusan air payau plus kopi (tetap dengan rebusan air payau). Mie goreng plus kopi payau sudah siap, rombongan penjala ikan pun sudah datang dengan membawa beberapa ikan. Olret, makan malam dimulai. Makan bersama terasa nikmat, walau setiap menelan tenggorokan terasa kering karena rasanya asin sekaleee hahaha... Pak Nasir sempat bilang, lha ngapain pakai air payau, lha wong beberapa ratus meter di belakang kami ada sumur air tawar. Nah...!! kenapa baru bilang sekarang?? Hahaha... Kami semua tertawa.
Setelah makan malam selesai, kami ngobrol santai sambil menikmati hembusan angin laut, kopi payau, dan rokok. Pak Nasir memutuskan untuk melanjutkan menjala ikan. Kami yang muda-muda sudah capek dan ingin santai di tenda. Bakar-bakar ikan, ngobrol-ngobrol dan ndagel mirip orang gila, hingga akhirnya malam semakin larut dan kami tidur.

Pagi menjelang, pemandangan pantai semakin cantik berhias langit biru. Dayat, Saboy, dan Pak Nasir lanjut memancing, sementara saya, Arif, dan Hari duduk di pinggir pantai menikmati keindahan yang ada berteman kopi dan rokok. Beberapa saat kemudian, kami bergantian menjelajahi Pantai Bandealit sampai ke Goa Jepang. Sampai akhirnya, kurang lebih jam 10.00 WIB kami beres-beres peralatan dan sampah untuk persiapan pulang. Sebelum perjalanan pulang, kami mampir terlebih dahulu di rumah Pak Nasir untuk sekedar mandi dan sarapan. Badan sudah bersih, perut sudah kenyang, dengan mengucapkan ribuan terima kasih kepada Pak Nasir, kami pun pamit pulang. Sayonara....!! Terima kasih Pak Nasir, terima kasih Pantai Bandealit atas suguhan 'keperawanan' alamnya.

*) Koplak, draft dari Oktober 2012, baru terposting  Pebruari 2013


Eksotisme Pantai Bandealit


share on facebook

0 Komentar:

Post a Comment