"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Sabtu, 02 Oktober 2010

Apakah Pancasilaku Tidak Sakti Lagi?

Sudah lama rasanya tidak menjamah blog. Kesibukan beberapa hari terakhir di bulan September benar-benar menghabiskan waktu, hingga membuat saya tidak sempat untuk sekedar menengok blog saya.
Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Oktober, bulan kesepuluh di tahun Masehi. Ngomong-ngomong soal bulan Oktober, jadi keinget sama hari besar nasional yang biasa diperingati setiap tanggal 01 Oktober, ya Hari Kesaktian Pancasila.

Gema peringatan Hari Kesaktian Pancasila nyaris sangat samar saya dengar. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila rasanya lenyap ditelan berita-berita tentang terorisme, berita tentang tawuran antar warga, berita tentang pertikaian antar golongan, berita tentang bunuh diri, dan berita kriminal serta berita nggak menyenangkan lainnya.

Mungkinkah masyarakat sudah banyak yang lupa atau memang banyak yang tidak tahu bahwa tanggal 01 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila?? Mungkinkah masyarakat lupa atau tidak tahu bahwa tanggal 01 Oktober adalah hari sakral yang menunjukkan betapa hebat dan saktinya suatu dasar negara mampu menjaga berdirinya kedaulatan negara dan mampu mengayomi bangsa serta rakyatnya?? Ah... semoga itu hanya khayalan saya saja. Saya harap rasa nasionalisme masyarakat masih ada di lubuk hati mereka masing-masing. Saya yakin mereka ingat dan paham bahwa tanggal 01 Oktober adalah Hari Kesaktian Pancasila, mungkin mereka semua tidak sempat memperingati dan men-sakralkan hari tersebut karena terlalu sibuk mencari sesuap nasi untuk hidupnya sehari-hari yang dirasa semakin sulit.

Sebentar... sebentar, saya rasa saya memang sedang berkhayal bahwa Pancasila itu sakral dan sakti. Saya rasa kelima jimat dari Pancasila pamornya sudah mulai luntur hingga membuat kesaktiannya pudar. Lha buktinya??

Jimat pertama, berisi tulisan "Ketuhanan Yang Maha Esa". Seandainya jimat ini masih sakti, saya yakin masyarakat akan tenteram, adem ayem, nggak ada lagi permusuhan yang mengatas namakan agama atau golongan tertentu. Dalam kesaktian jimat ini tercermin bahwa negara dan masyarakat itu percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa akan terbina kerukunan antar umat beragama, bahwa adanya rasa saling menghormati untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Kenyataan sekarang?? You know lah... mau ibadah aja kadang masih ada yang merasa nggak aman, bahkan parahnya sampai ada tarung yang mengatas namakan agama. Weleh... weleh.

Jimat kedua, berisi tulisan "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Wah... di lapangan masih banyak manusia yang tidak memanusiakan sesamanya. Sampeyan sakit parah tapi nggak punya duit mending jangan ke rumah sakit deh, banyak di tolaknya hahaha... Pertikaian antar golongan [masih sama-sama golongan manusia lho] kerap terjadi, sampai ada yang ngejar-ngejar sambil nyabet-nyabetkan senjata tajam secara membabi buta, udah kaya' ngejar babi yang mau disantap. Ngeri... jimat kedua ternyata pamornya juga sudah mulai luntur.

Jimat ketiga, tulisannya "Persatuan Indonesia". Gimana mau bersatu padu dan berjalan beriringan membangun Indonesia, lha nggak yang muda, nggak yang tua dikit-dikit hobinya tawuran... hobi kok tawuran hahaha. Ya... sekali lagi tercermin kalo' jimat ketiga juga mulai udah nggak sakti lagi.

Jimat keempat, ada tulisannya "Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan". Orang-orang yang konon katanya wakil rakyat nggak sedikit yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan golongan saja. Banyak dari mereka yang nggak memikirkan rakyatnya, yang notabene sebenarnya adalah Bendoro mereka. Banyak dari wakil-wakil rakyat yang terjerat kasus karena nyolong duit yang seharusnya menjadi hak rakyat. Lho... lucu kan, ada Kacung berani nyolong duit Bendoronya hahaha. Untung Bendoronya baik hati, coba kalo nggak baik hati, saya yakin para Kacung tersebut sudah dipenggal kepalanya hahaha. Jangan sampai lah jimat keempat ini berubah bunyi menjadi "Kerakyatan yang Ditipu Perwakilannya".

Jimat kelima, "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia". Di lapangan, keadilan itu hanya milik mereka yang punya kuasa dan punya duit hahaha. Si A terpaksa nyolong buah karena kelaparan yang kemudian diadili sesegera mungkin dan akhirnya kena hukuman 5 tahun mendekam di penjara kelas IIA. Si B nyolong duit milyaran rupiah karena tamak, diadili dengan mbulet dan lama nggak karuan dan akhirnya kena hukuman belasan tahun mendekam di penjara VIP yang sebenarnya lebih layak disebut hotel hahaha. Adilkah?? Ya... adil-adil saja, lha Si A itu kere sementara Si B itu banyak duit kok. Halah... jimat kelima juga sudah ndak mempan.

Apakah Pancasilaku Tidak Sakti Lagi?

Sebenarnya ini tugas kita semua. Tugas semua lapisan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling bawah, dari yang paling besar sampai yang paling kecil, dari yang paling muda sampai yang paling tua untuk kembali membuat Pancasila menjadi sakti, untuk membuat jimat-jimat Pancasila kembali bertuah. KESADARAN DIRI itu yang pertama dan utama.

share on facebook

2 Komentar:

takuya mengatakan...

dukun-dukun pewaris kesaktian pancasila memang sudah takabur semua.. heuu.. *dukun? wkwkwkwk*

Wisnu mengatakan...

hehehe...
saatnya kita buat Pancasila kembali sakti... mari kita jadi dukun buat Pancasila... :)

Poskan Komentar