"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Monday, 20 September 2010

Mudik - Lebaran - Balik

Pengen bercerita tentang kegiatan dan pengalaman selama mudik lebaran, berlebaran, dan balik dari mudik lebaran. Cerita ini hanya untuk kepentingan diary semata, jika ada kesamaan tokoh dan tempat itu memang disengaja oleh penulis. tersenyum lebar

Mudik
Saya mudik hari Selasa, tanggal 07 September 2010 menuju Dusun Tegalrejo, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman-Yogyakarta, tempat asli dari Bapak dan Ibu saya. Berangkat dari rumah Bangsalsari-Jember sendiri saja karena Bapak sudah mudik terlebih dahulu, sementara Ibu dan Adik saya tidak mudik. Ibu dan Adik lebaran tahun ini memilih menunggu rumah sekaligus menunggu calon cucu keduanya lahir [anak dari Kakak saya].
Perjalanan menuju Yogyakarta biasa saya tempuh dengan menggunakan angkutan bus umum kelas ekonomi. Berangkat dari terminal bus Tawangalun Jember sekitar jam 8 malam. Perjalanan relatif lancar, suasana bus juga relatif longgar tidak penuh sesak. Yah... hanya 1 permasalahan yang saya hadapi tiap melakukan perjalanan jauh dengan angkutan umum, yaitu tidak tahan dengan pegal-pegal yang saya rasakan di bagian kaki dan [maaf] pantat karena duduk diam kurang lebih selama 10 jam. Hah... terasa menyiksa. tertawa
Sampai di Yogyakarta sekitar jam 7 pagi, langsung disambut oleh Bapak saya yang sudah stand by menjemput dan membonceng saya menuju rumah Kakek di dusun. Sepanjang perjalanan saya pandangi keadaan sekitar, masih sama seperti dulu tidak banyak yang berubah. Sawah-sawah masih luas terbentang, pohon-pohon hijau masih tumbuh dengan lebat, rumah-rumah masih berdiri dengan corak khas bangunan desa, serta keadaan masyarakat yang masih tampak sederhana dan bersahaja.
Beberapa jam sesampainya di rumah, Pak Lik saya yang juga berdomisili di Jember datang, ternyata beliau dan keluarganya juga mudik [kalau tau mau mudik, kan bisa bareng... siapa tahu ongkos bus saya dibayari tertawa], kemudian sore harinya Bu Lik saya yang domisili di Gresik juga datang bersama keluarganya. Yah... Alhamdulillah rumah Kakek menjadi ramai dengan datangnya 3 orang anaknya dari rantau bersama 2 orang menantu plus 5 orang cucunya.

Lebaran
Alhamdulillah tidak terasa hari lebaran pun tiba. Saya pun ikut berbondong-bondong bersama masyarakat sekitar untuk menunaikan sholat Idul Fitri di masjid desa. Setelah sholat Idul Fitri usai, saatnya untuk melakukan tradisi sungkeman kepada orang yang lebih tua. Tradisi di sini sangat berbeda jauh dengan di Jember. Di Jember suasana lebaran menurut saya kurang terasa, tradisi salaman hanya sebatas berjabat tangan saja [entah itu dengan yang muda ataupun dengan orang yang lebih tua], sementara di Yogya tradisi salaman dari orang yang lebih muda ke orang yang lebih tua tidak hanya sebatas berjabat tangan, akan tetapi dilanjutkan dengan kata-kata yang cukup panjang, yang intinya berisi ucapan permohonan maaf yang mendalam sambil menjabat erat tangan orang yang lebih tua.
Sementara orang yang muda mengungkapkan rasa permohonan maafnya, orang yang lebih tua mengamininya. Begitu sebaliknya, setelah orang yang lebih muda memohon maaf kepada orang yang lebih tua, maka orang yang lebih tua pun meminta maaf dan mendoakan orang yang lebih muda agar senantiasa bisa menjadi manusia yang bermanfaat serta sehat lahir dan bathin, dan orang yang lebih muda pun mengamininya. Jadi tradisi berjabat tangan atau lebih tepatnya sungkeman memakan waktu yang cukup lama. Dan perlu anda ketahui bahwasannya hal tersebut benar-benar terasa dalam hati, bahkan saya bisa dipastikan selalu menitikkan air mata, terutama saat sungkem kepada kedua orang tua saya, utamanya lagi saat sungkem kepada Ibu. Mungkin anda anggap saya itu orang yang cengeng tertawa, tapi ya begitulah kenyataannya. Sekuat apapun hati dan mata untuk menahan air mata toh akhirnya air mata leleh juga.
"Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum. Nyuwun agunging pangaksami sedaya kalepatan kula dumateng Ibu. Mugi-mugi sedaya kalepatan kula saget dipun lebur kalihan Gusti Allah ing dinten riyadin menika." ["Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala dosa dan kesalahan saya kepada Ibu. Mudah-mudahan semua dosa dan kesalahan yang pernah saya perbuat bisa diampuni oleh Allah di hari raya ini"]. Begitulah kurang lebih bahasa sungkeman yang biasa saya sampaikan kepada orang yang lebih tua.
Setelah acara sungkeman di keluarga besar usai, kegiatan dilanjutkan dengan silaturrahmi mengunjungi tetangga sekitar. Kegiatan ini terasa lama ya karena tradisi sungkeman plus ungkapan itu tadi, belum lagi ditambah acara jagongan. Untuk bersilaturrahmi komplit rumah sedusun, biasanya diperlukan waktu 1 hari tertawa Ya... 1 hari khusus untuk berilaturrahmi orang sedusun.
Untuk hari-hari selanjutnya saya biasanya diam di rumah sambil nunggu saudara-saudara yang jarak rumahnya agak jauh. Maklum, Kakek saya bisa dikatakan sesepuh baik di kalangan dusun maupun di kalangan saudara-saudara, jadi saudara-saudara jauh saya bisa dipastikan akan bersilaturrahmi ke rumah Kakek saya.
Diantara saudara-saudara jauh yang bersilaturrahmi tersebut tampaklah seseorang gadis yang cantik jelita berguling di lantai. Sumpah baru kali ini saya tahu kalau saya ternyata memiliki saudara jauh yang cantik haha... Alhasil saya pun menjadi bahan guyonan Pak Lik saya. "Tuh... cakep, udah PDKT sana, nikah sama dia aja, nanti kan enak bisa tinggal di sini sambil nemani Pak Puh [Kakek saya]", canda Pak Lik. Saya cuma cengar-cengir nggak jelas. pipi memerah


Balik
Saya balik dari Yogya menuju Jember giliran terakhir sendiri. Minggu [12/09] pagi dimulai Pak Lik saya balik ke Jember. Kemudian Minggu sorenya Bapak saya balik. Senin [13/09] pagi giliran Bu Lik saya pulang ke Gresik, dan Senin sorenya baru saya balik sendirian ke Jember. Tujuan arus balik digilir seperti itu tidak lain dan tidak bukan agar suasana rumah Kakek tidak serta merta langsung sepi. Yah... paling nggak suasana sepi bisa berjalan secara berangsur-angsur. Sebenarnya saya sendiri merasa kerasan di sana [sumpah, bukan karena cewek cakep seperti cerita di atas tertawa], saya kerasan lebih karena suasana desa yang nyaman, suasana desa yang tenteram dengan segala kesederhanaannya. I Love It...!!
Tapi apalah daya, saya sudah janji bahwa Selasa malam untuk kumpul-kumpul silaturrahmi bersama teman-teman PMR jaman SMA di Jember dulu [maaf nyombong dikit, sebagai informasi jaman SMA dulu saya ini Ketua Umum PMR lho], kemudian hari Rabunya temen-temen SMP ngajak kumpul-kumpul reuni juga [nyombong lagi, jaman SMP dulu saya adalah Ketua Kelas pipi memerah]. Jadi sebagai mantan Ketua Kelas dan mantan Ketua PMR yang baik saya harus memenuhi janji saya.
Yup... waktu untuk balik ke Jember pun tiba, saya minta tolong saudara saya [sekali lagi bukan saudara cewek yang cakep tadi... halah] untuk mengantarkan saya ke terminal bus Giwangan Yogyakarta. Sesampainya di sana, bus jurusan Yogya-Banyuwangi ternyata baru sampai dan langsung diserbu penumpang yang akan balik ke kota perantauan masing-masing. Alhamdulillah masih dapat tempat duduk.
Ada cerita menarik nih pas di dalam bus, saya kan duduk di bangku yang isi 3 orang, setelah saya duduki otomatis kan masih ada sisa bangku kosong untuk 2 orang, nah pada saat itu ada sekelompok keluarga besar [kalo' nggak salah ada 6 orang], setelah masing-masing mencari tempat duduk, finally si Ibu dan anak perempuannya belum menemukan tempat duduk, kemudian si Bapak [suami si Ibu tadi] menyarankan agar duduk bersebelahan dengan saya. "Duduk dengan Mas itu aja, Ma", kata si Bapak tadi dengan harapan agar bisa kumpul lebih dekat dengan anggota keluarga lainnya yang sudah menemukan tempat duduk. Si Ibu tadi cuma menatap saya, sambil geleng-geleng kepala dan memilih tempat duduk agak jauh di depan. Busyet... seketika itu juga saya berpikir, apa iya wajah saya ini tampang kriminal kok sepertinya si Ibu tadi takut dan nggak percaya kepada saya berguling di lantai.
Haha... ingin rasanya teriak kencang dan menyanyikan salah satu lagunya SLANK :
"Memang rambutku memang panjang... Jangan menghina yang penting bukan telanjang... Memang kantongku memang kering... Jangan menghina yang penting bukannya maling. Memang jaketku memang kotor... jangan menghina yang penting bukan koruptor"
Yah... beginilah Slankers masih dianggap kaum minor oleh sebagian orang tertawa [semoga itu hanya perasaan saya saja].
Waktu menunjukkan jam 4 sore, bus pun mulai berangkat, keluar dari Yogyakarta suasana dalam bus masih agak longgar, akan tetapi sesampainya di terminal bus Tirtonadi Solo, bus diisi kembali oleh penumpang hingga terpaksa sang kondektur bus menyediakan bangku tambahan [bangku plastik yang diletakkan di sepanjang jalan kosong di dalam bus], alhasil suasana bus penuh sesak, mana ada penumpang yang membawa bayi dan nangis terus sepanjang perjalanan. Hah... kacau dah, sumpek, wawut-wawutan, tapi yah itulah seninya mudik.
Perjalanan balik tidak semulus perjalanan mudik. Sepanjang jalan dari Sragen, Ngawi hingga Madiun macet. Bus hanya berjalan sangat pelan, hingga membuat jadwal perjalanan dan pemberangkatan bus menjadi terlambat. Perhitungan saya kalau berangkat dari Yogyakarta jam 4 sore biasanya sampai di rumah Jember sekitar jam 2 atau jam 3 pagi. Tapi waktu itu saya sampai di rumah Jember jam 7 pagi...!!
Hah... it's ok lah, yang penting saya selamat sampai tujuan. Alhamdulillah...!!

Itulah sekelumit diary saya selama berlebaran. Lumayan seru... Bagaimana dengan anda?? tersenyum lebar


share on facebook

3 Komentar:

Takuya said...

buset dah.. sampe jalan kosong juga ditaroh bangku plastik? wedeh.. si kondektur bus terlalu mengeruk keuntungan deh tuh..

lone said...

tuh si ibu2 bukan serem liat mas..tapi takut ntar bersin2 kena rambut na mas yg ndak pernah keramas ntu..xixixiix..

Wisnu said...

@takuya...haha pihak bus jelas ingin meraup keuntungan banyak, dan anehnya penumpang mau saja dikasih kursi plastik [padahal bayar normal plus berbahaya jg] yah.. mungkin mereka pikir asal bisa mudik/balik... skali lagi itulah fenomena mudik di Indonesia hehe...

@sis len...wakakakakak, ya keramaslah, kn aku dulu pernah juara kilau rambut so klin haha...

Post a Comment