"Berkhayal lah seluas biru langit, berpikir lah sedalam biru laut, horizontal sama rata sama rasa. Buka jendelamu lalu pandanglah, buka pintumu ayo keluarlah, bebas lepas lepaskan kebebasan. Jangan takut keluarlah, hadapi dunia dengan menari" [Slank Dance].

Sunday, 8 August 2010

Derita yang Indah

Derita yang indah... memangnya ada?? tersenyum lebar
Yah kenyataannya memang sulit menemukan sesuatu yang indah dibalik sebuah derita. Saat derita menerjang yang tertangkap hanya kekesalan, kekecewaan, sakit hati, keluh dan kesah. Sebenarnya judul ini saya ambil hanya untuk sedikit membesarkan hati saya yang mana pada hari ini mengalami penderitaan yang bertubi-tubi [akhirnya lagi-lagi saya terlalu hiperbola] tertawa.

Jadi ceritanya begini, hari ini Minggu tanggal 08 Agustus 2010 [bertepatan dengan acara Jember Fashion Carnaval], saya berencana menghadiri acara pernikahan sahabat saya di Banyuwangi [salah satu Kabupaten dari Provinsi Jawa Timur, yang terletak di paling ujung timur pulau jawa], kalo' dihitung waktu perjalanan dengan menggunakan sepeda motor yang melaju dengan kecepatan sedang [sekitar 70-80 km/jam] dari rumah saya memakan waktu sekitar 3 jam.

Nah, rencana tersebut sebenarnya sudah terealisasi dengan baik. Berangkat dari rumah jam 8 pagi bersama 2 orang teman saya [1 orang berboncengan dengan saya, sementara 1 orang lagi membawa sepeda motor sendiri]. Peralatan tempur juga sudah di persiapkan dengan matang, saya sudah bawa jas hujan [model baju dan celana], ditambah jas hujan dari teman yang saya bonceng [model terusan], jadi ada dua jas hujan [yang mungkin nanti berguna], karena 1 teman yang bawa motor sendiri tidak membawa jas hujan. Cuaca cerah dan perjalanan berangkat nyaris mulus tanpa halangan yang berarti, sampai di lokasi acara sekitar jam 11 siang. Ngopi, merokok, makan, ngobrol, photo-photo, kurang lebih demikian kegiatan kami di sana sampai nggak terasa waktu sudah menunjukkan jam 3 sore. Setelah sholat ashar, kami bertiga pun pamit pulang.

Pada saat pulang [tentunya melewati rute seperti saat berangkat], perjalanan kami terhalang oleh acara Pawai dan Karnaval. Kami disarankan melewati jalur alternatif yang lain [padahal kami sendiri nggak paham, jalur alternatif mana yang dimaksud]. Dengan mengucap Bismillah, kami pun mencoba mencari-cari jalan pulang [mau tanya ke teman kami yang baru saja menikah nggak enak, takut ngganggu tertawa ], mau tanya ke orang lain, kami sedikit gengsi, akhirnya kami pun berjalan mengikuti insting kami. Putar-putar, belok kanan, belok kiri, baca-baca alamat, ada Tegalsari, Karangdoro, Blokagung [hiks...nama yang asing], tak terasa kami sudah melewati dua kali jalan yang sama [artinya kami hanya berputar-putar nggak jelas menangis ].

Benar kata pepatah, "Malu bertanya sesat [sumpah beneran sesat] di jalan". Kami pun menyerah dan mulai bertanya-tanya pada orang sekitar, jalan yang mana menuju kota Jember. "Lurus, pertigaan belok kanan, Mas", kami pun manut belok kanan. "Lurus, pertigaan belok kiri", kami pun manut belok kiri, hingga akhirnya perjalanan kembali terhadang oleh sebuah acara Pernikahan [panggung, kursi, meja berada di tengah jalan menangis ]. "Lewat samping kiri, masuk ke pekarangan orang, teruuuuus sampeyan lurus saja", lagi-lagi kami manut [lha mau gimana lagi coba?]. Hujan pun mulai turun, jas hujan kami kenakan. Jas hujan milik saya [model baju dan celana] saya pinjamkan ke teman yang bawa motor sendiri, sementara saya dan teman yang saya bonceng memakai jas hujan model terusan. Perjalanan panjang nan berliku kami lalui hingga akhirnya kurang lebih jam 5 sore kami baru masuk ke lokasi Gunung Kumitir [kalo' perjalanan mulus sesuai rute berangkat, mestinya kami sudah masuk di kota Jember]. Sebagai informasi, Gunung Kumitir adalah sebuah bukit, atau pegunungan yang memisahkan antara kota Jember dan Banyuwangi, jalannya sempit dan sangat rawan kecelakaan, karena berbentuk tanjakan dan turunan serta berkelok-kelok. Pemandangan yang tampak di dominasi oleh pepohonan besar, sisi kanan bukit [yang rawan longsor], sisi kiri jurang. Sangat hati-hati kami melewati jalan tersebut, hingga tak terasa perjalanan kami terhenti.

Ternyata jalan di Gunung Kumitir mengalami kemacetan. Konon katanya dikarenakan terjadi selip dan berebut jalan antara bis dan truk. Bagi mobil, jalan benar-benar lumpuh total, mobil tidak bisa jalan, yang bisa dilakukan hanya mengantri entah sampai kapan. Sementara bagi pengendara motor hanya bisa memanfaatkan celah-celah kecil di antara mobil-mobil dan memanfaatkan sisi paling kiri jalan untuk bisa terus maju ke depan. Suasana saat itu benar-benar kacau, tidak ada lampu penerangan jalan, polisi yang mengatur lalu-lintas hanya beberapa orang saja [itupun sangat kebingungan, karena kondisi lalu lintasnya benar-benar kacau], penumpang mulai turun dari bis, dan berjejal-jejal di jalan, sebagian lagi ada yang minta uang karcis dikembalikan dan memutuskan untuk jalan kaki turun dari Gunung Kumitir. Sebenarnya saya ingin sekali mengabadikan suasana waktu itu dengan kamera, tapi saya sendiri merasa nggak enak sama orang-orang di sekililing saya yang sedang kebingungan.

Teman yang saya bonceng saya suruh turun dan saya suruh jalan dulu ke depan, biar saya bisa leluasa mencari jalan melalui celah-celah sempit yang ada. Alhamdulillah setelah berjuang dengan penuh semangat, akhirnya bisa lepas juga dari antrian macet yang entah berapa kilo meter panjangnya, walau terpaksa saya harus terpisah dari teman saya yang bawa motor sendiri [sepertinya sudah jauh ada di depan, atau mungkin sudah sampai di Jember]. Begitu turun dari wilayah Gunung Kumitir, mulai masuk wilayah kabupaten Jember, tepatnya daerah Garahan ternyata terjadi pemadaman listrik, alhasil sepanjang jalan gelap gulita.

Sampai di daerah Sumberjati, Sempolan Jember, kami berdua memutuskan berhenti sejenak di masjid untuk menunaikan sholat maghrib. Orang yang ada di masjid mewanti-wanti kami agar sholat gantian saja, biar ada orang yang nunggu motor. "Pemadaman gini, rawan mas. Kapan hari sudah ada sepeda motor yang ilang, karena ditinggal sholat sama yang punya", kata seorang Bapak yang ada di masjid. Sambil nunggu teman saya sholat, saya lanjutkan ngobrol sama Bapak tersebut. "Daerah sini memang rawan ya, Pak?", tanya saya. "Iya mas, cuma sebenarnya yang rusuh bukan orang sini, rata-rata orang jauh", kata Bapak tadi dengan logat madura yang sangat kental. "Apalagi menjelang ramadhan dan hari raya gini mas, apa aja bisa jadi sasaran pencurian. Jangankan sepeda motor, orang aja sekarang dicuri. Sudah ada beberapa anak disini yang ilang, katanya sih diculik, katanya lagi anak-anak yang diculik itu diambil organ dalamnya", tambahnya. Widih makin serem aja dunia ini rupanya terkejut

Setelah sholat dan berpamitan, kami pun melanjutkan perjalanan. Sampai di pusat kota Jember suasana sudah terang benderang, kami mampir sejenak di depot sate untuk ngisi perut yang sudah keroncongan. Setelah selesai, perjalanan berlanjut dengan mengantarkan teman yang saya bonceng ke rumahnya. Saatnya pulang, perjalanan masih jauh, kurang lebih sekitar setengah jam lagi [maklum rumah saya di desa, jauh dari pusat kota Jember tertawa ]. Ngeeeeng.... motor sedikit saya kebut, dengan harapan segera sampai di rumah dan bisa segera beristirahat. Begitu memasuki desa Langkap, kecamatan Bangsalsari [kurang lebih 7 kilo meter dari rumah saya], tiba-tiba motor saya melambat dan mati, tampak dari bagian blok mesin bawah keluar asap. Mampus...!! kenapa lagi ini. Saya coba hidupkan lagi, tampak asap keluar lagi dan ada bunyi yang nggak beres di bagian blok mesin. "Waduh, apa iya pistonnya", pikir saya. Jam menunjukkan angka 9 malam, saya tetap diam belum berani melanjutkan perjalanan, dan akhirnya saya berinisiatif menelpon kakak saya. "Mas, tolong jemput saya di timur pasar Langkap, jangan lupa bawa tali buat narik motor saya. Motor lagi trouble nih", kata saya.

Sambil nunggu kakak saya datang, saya nyalakan 1 batang rokok untuk ngusir rasa bosan. Cling... tiba-tiba gerimis pun turun, hah... mana kanan kiri cuma ada sawah [nggak ada tempat berteduh], mana jas hujan saya dibawa oleh teman yang terpisah di daerah Gunung Kumitir tadi. Pasrah... hanya itu yang bisa saya lakukan tertawa.

15 menit kemudian, kakak saya datang. Tanpa pikir pajang langsung mengaitkan tali dan menarik motor saya. Sudah dekat dengan rumah... semakin dekat... semakin dekat... kurang lebih 800 meter dari rumah, tiba-tiba tali pengait putus. Hiyaaa.... kakak saya terus melaju ke depan, sementara saya terdiam sendiri di tengah jalan. Begitu agak jauh, kakak saya menoleh ke belakang [mungkin merasa kok tarikan semakin enteng]. Saya turun dan mulai menuntun sepeda, saya teriak "Udah lanjut aja, udah dekat biar motornya tak tuntun saja".

Begitu mau melangkah menuntun motor, saya baru tersadar ternyata sandal saya putus. Sedaaap....!! akhirnya sandal saya ambil dan saya nyeker menuntun motor sampai di rumah. Nyampe' di rumah motor saya parkir dan langsung duduk mengatur nafas yang terengah-engah. Kakak dan Bapak saya mulai melihat kondisi motor saya. Di hidupkan, dimatikan. "Kaya'nya kehabisan oli nih, moga aja nggak sampe' kena pistonnya. Kalau kena piston bisa turun mesin", kata kakak saya. Walah masa' iya motor baru dapat setahun dengan kondisi penunjuk kilo meter baru 6.000 harus turun mesin??!!. "Masa' kehabisan oli? Baru seminggu kemarin saya service plus ganti oli di bengkel resmi Honda kok", tangkis saya. "Mungkin bautnya kurang beres, atau pack olinya rusak. Tuh buktinya olinya merembes keluar. Moga aja nggak harus turun mesin", imbuh kakak saya. Oh... [hanya itu yang bisa keluar dai mulut saya menangis ]. Motor saya masukkan ke dalam rumah. Bersih-bersih diri, hidupkan komputer langsung posting blog tentang pengalaman yang masih sangat hangat melekat di kepala saya. Capek nulis akhirnya saya putuskan untuk istirahat total, melepas rasa lelah.


Banyak orang sekitar yang bilang, kalo' saya adalah orang yang sabar [PD banget yak haha...], tapi ternyata menurut ilmu-Nya Gusti Allah, saya masih jauh dari kategori orang sabar, hingga akhirnya saya mendapat ujian agar kesabaran saya bisa lebih meningkat lagi. Great...!! mantap lah ujian hari ini. Jadi ingat postingan lain saya yang berjudul Kupu-kupu. Terima kasih banyak Ya Allah... skenario-Mu hari ini benar-benar indah.

share on facebook

2 Komentar:

Takuya said...

y ampuun, dimenit-menit hampir nyampe rumah juga cobaannya banyak benner.. wkwkwkwkkw.. untung mogoknya ngga pas di macet total di gunung itu.. waddoohh..

Wisnu said...

hahaha... skenario yang hebat dari Sang Pencipta...

Post a Comment